LPPF Q1 2025 : Laba Bersih Naik Naik 97.36%, 4 Catatan Dan DER Yang (Tidak) Bahaya
Download LK LPPF Q1 2025
Review LK LPPF Q1 2025
- Kas NAIK 610.77% dari Rp 398.78 miliar menjadi Rp 2.83 triliun
- Aset NAIK 45.95% dari Rp 5.14 triliun menjadi Rp 7.50 triliun
- Liabilitas NAIK 34.94% dari Rp 4.81 triliun menjadi Rp 6.49 triliun
- Ekuitas NAIK 208.65% dari Rp 325.78 miliar menjadi Rp 1 triliun
- Pendapatan NAIK 21.46% dari Rp 1.97 triliun menjadi Rp 2.39 triliun
- Beban pokok pendapatan NAIK 11.46% dari Rp 682.60 miliar menjadi Rp 760.84 miliar
- Laba kotor NAIK 26.76% dari Rp 1.29 triliun menjadi Rp 1.63 triliun
- Laba bersih NAIK 97.36% dari Rp 325.97 miliar menjadi Rp 643.32 miliar atau EPS naik dari Rp 144 menjadi Rp 285
Kondisi Perusahaan
Kas LPPF di periode Q1 2025 naik 610.77% dari Rp 398.78 miliar menjadi Rp 2.83 triliun

Faktor sempurna antara
- kenaikan pendapatan dari pelanggan,
- berkurangnya pembayaran ke pemasok serta
- tidak adanya pembayaran pinjaman
membuat kas LPPF naik sangat signifikan.
Nantinya yang menarik adalah ketika penjualan hanya membukukan Rp 2.39 triliun tetapi penerimaan pelanggan mencapai Rp 5.1 triliun.
Jika ditelusuri dari sisi piutang tidak ada transaksi yang signifikan. Opsi berikutnya adalah di kuartal 1 semua pembayaran pelanggan sudah masuk tetapi LPPF belum membayar kepada para pemasoknya.
Aset total LPPF naik 45.95% dari Rp 5.14 triliun menjadi Rp 7.50 triliun

Berikut ini penyusun aset terbesar LPPF
1. Kas sebesar Rp 2.83 triliun
2. Aset hak guna Rp 2.04 triliun
3. Persediaan Rp 787.56 miliar
4. Aset tetap Rp 532.60 miliar
5. Investasi pada ekuitas Rp 455 miliar
Jika melihat kualitas aset dari LPPF menurut kami sangat istimewa karena kekuatan utama bertumpu di kas.
Nanti kita lihat terkait kewajibannya.
Oh ya yang perlu diketahui adalah apakah kenaikan kas karena dari pelanggan ini bisa sustain atau berkelanjutan atau hanya one season wonder alias dapat jackpot saja di kuartal 1 karena adanya momen lebaran dimana transaksi meningkat dan pembayaran ke pemasok menurun.
Liabilitas LPPF naik 34.94% dari Rp 4.81 triliun menjadi Rp 6.49 triliun

Berikut penyusun hutang LPPF terbesar
1. Utang usaha Rp 2.58 triliun
Utang usaha mengalami kenaikan signifikan dari Rp 1.03 triliun menjadi Rp 2.58 triliun.
Sangat dimungkinkan karena memang di kuartal 1 2025 ada momen lebaran.
Dengan utang usaha naik dan pembayaran ke pemasok menurun sepertinya kenaikan kas yang signifikan mulai terlihat dimana LPPF mengambil produk dari perusahaan lain namun di kuartal ini belum dibayar.
2. Kewajiban sewa jangka panjang Rp 2.15 triliun
3. Kewajiban sewa jangka pendek Rp 539.21 miliar.
Kabar baik dari LPPF ini adalah LPPF tidak mempunyai hutang bank tetapi mempunyai kewajiban sewa.
Kewajiban sewa ini berpengaruh dengan tingkat ramainya mall tersebut. Semakin ramai maka kewajiban sewa ini bisa mudah tertutupi. Tetapi kalo sepi atau bahkan ramai tetapi hanya untuk jalan-jalan saja tanpa membeli juga bisa berimbas ke kemampuan LPPF membayar sewa ini.
Ekuitas total LPPF Q1 2025 naik 208.65% dari Rp 325.78 miliar menjadi Rp 1 triliun

Ekuitas yang naik signifikan bisa dipicu karena di periode ini LPPF belum membagikan dividen sehingga ekuitas sangat tebal.
Di bulan April 2025 LPPF membagi dividen Rp 668.18 miliar sehingga ekuitas di kuartal 2 berkurang menjadi kisaran Rp 337.33 miliar.
Bagaimana kualitas neraca LPPF secara umum?
LPPF ini bukan perusahaan yang cash rich layaknya TOTL atau ELSA.
Bisnis model LPPF ini adalah menyewa tempat kemudian mengundang para pemasok untuk menaruh barangnya di outlet LPPF sehingga modal atau ekuitas LPPF selalu kecil.
Contoh gampangnya begini di Jogja ada banyak penjualan makanan atau snack di pagi hari.
Nah penjual itu ibarat LPPF yang membayar sewa lokasi.
Modal aslinya apa? Hanya meja dan tulisan “boleh nitip disini”.
Para produsen snack atau makanan akan berbondong-bondong menitip barangnya.
Asetnya jelas besar, hutang usaha dan sewa juga besar. Modal? Hanya meja.
Semakin rame penjualan maka hutang usaha makin besar dan tentu saja sewa lokasi bisa tertutupi dengan mudah.
Sudah terbayang ya? Jadi kualitas neraca LPPF bukanlah yang memiliki book value istimewa.
Nah sekarang banyak investor LPPF yang selalu mengatakan DER LPPF tinggi yaitu di Q1 2025 DERnya 646%.
Cara menghitung DER = total hutang / total ekuitas. Baca Belajar Tentang Debt to Equity, Cash Ratio, Quick Ratio Dan Current Ratio
Apakah berbahaya?
Sebelumnya perlu diketahui bahwa memang benar LPPF tidak memiliki hutang bank tetapi utang sewa tetaplah hutang yang wajib dibayar dengan nominal hutang sewa jangka pendeknya Rp 539.21 miliar
Selain itu adanya utang usaha sebesar Rp 2.5 triliun juga perlu diperhatikan.
Nah kita lihat kasnya Rp 2.8 triliun dan utang jangka pendek terbesar yaitu Rp 539.21 miliar dan Rp 2.5 triliun membuat uang kas LPPF menjadi kurang.
Kita sebagai investor waspadanya disini. Tapi asal produk bisa terjual maka utang usaha aman. Tapi jika enggak maka ada potensi untuk meminjam uang.
Jadi terkait neraca ada PR yang perlu dicari tau yaitu
- kasnya. Berapakah kas rutin tahunan LPPF
- utang sewa. Berapa total utang sewa tahunan dan berapa berkurangnya setiap tahun
- hutang bank. Apakah ada riwayat LPPF pinjam ke bank
Coba dicari tau menggunakan laporan tahunan beberapa tahun ke belakang.
Kinerja Perusahaan
Penjualan LPPF di periode q1 2025 naik 21.46% dari Rp 1.97 triliun menjadi Rp 2.39 triliun
Tidak ada pembagian segmen dari penjualan LPPF ini. Yang ada justru per wilayah.


Hampir semua wilayah naik.
Kenaikan penjualan ternyata diikuti dengan kenaikan beban pokok pendapatan yang naik 11.46% dari Rp 682.60 miliar menjadi Rp 760.84 miliar sehingga laba kotor naik 26.76% dari Rp 1.29 triliun menjadi Rp 1.63 triliun.
GPM LPPF sangat tinggi di kisaran 68%. Mantap

Tidak ada beban-beban yang naik signifikan dan mengambil penjualan yang signifikan sehingga NPMnya mencapai 26%.
Laba bersih LPPF periode Q1 2025 naik 97.36% dari Rp 325.97 miliar menjadi Rp 643.32 miliar atau EPS naik dari Rp 144 menjadi Rp 285
Kinerja Saham

Kinerja perusahaan yang naik signifikan juga tergambar di kinerja sahamnya yang naik 16.84%.
Sempat naik di kisaran Rp 1800 karena adanya dividen final sebesar Rp 300.
Jika kita bisa beli di harga Rp 1700 dan jika dividen tahun 2026 Rp 300 lagi maka div yieldnya 17%. Wow….
Rasio-Rasio Penting
Harga : 1700 (harga tanggal 26/06/2025)
EPS : 1139 (annualised)
Book Value : 445 (annualized)
Harga Wajar : 3377 (Graham Number)
MOS : 50%
PEG Ratio : –
PER : 1.49 (annualized)
PBV : 3.82
GPM : 68.3%
NPM : 26.8%
ROE : 113.87%
Harga Wajar LPPF Q1 2025
Jika menggunakan EPS 1139 dan Book Value 445 maka harga wajar saham LPPF Q1 2025 menurut Graham Number sebesar 3377 berbanding dengan harga sekarang Rp 1700 (Penutupan tanggal 26 Juni 2025).
Untuk EPS menggunakan annualised. Jika menggunakan EPS TTM hasilnya berbeda
Artinya LPPF masih sangat undervalue
Silahkan gunakan Kalkulator Harga Wajar Saham DISINI
Kesimpulan Review LPPF
Kondisi perusahaan relatif standar, kinerja perusahaan istimewa dan kinerja saham standar.
Value : Ya
Growth : Ya
Dividen : Ya
Core : Ya
Stock Guide : Ya
Harga Beli/Jual LPPF
Dulu kami melihat manajemen LPPF kurang rapih dimana pernah membagi dividen menggunakan hutang. Koreksi jika salah ya..
Namun jika melihat kinerja di Q1 2025 sepertinya LPPF layak untuk masuk dividen investing. Join komunitas dividen investing terbesar disini KOMUNITAS DIVIDEN INVESTING.
Walaupun memang ada beberapa catatan yang harus diperhatikan
1. Memahami kas apakah memang kas LPPF menjadi sangat besar atau hanya karena belum membayar utang usaha
2. Book value bisa lebih rendah karena di Q1 2025 belum dikurangi pembayaran dividen
3. DER LPPF bukan aman sekali tetap perlu dipantau karena kas dan utang jangka pendeknya lebih besar hutang jangka pendeknya.
4. Telusuri riwayat LPPF terkait hutang bank.
=======
Mau baca ANALISA terbaru saham? Klik DISINI
Mau baca INSIGHT yang lebih dalam? Klik DISINI
Mau baca MATERI tentang saham untuk investor pemula? Klik DISINI
Mau menggunakan Kalkulator khusus Saham? Klik DISINI

