3 Manuver LPPF Dalam Pembagian Dividen
LPPF merupakan perusahaan yang mengoperasikan Matahari. Saat ini ada sekitar 143 gerai Matahari di seluruh Indonesia.
Stock Guide disini tidak akan membahas tentang kinerja keuangan dari LPPF (Untuk kinerja Q1 2025 bisa dibaca di artikel ini (LPPF Q1 2025 : Laba Bersih Naik Naik 97.36%, 4 Catatan Dan DER Yang (Tidak) Bahaya), namun akan membahas manuver manajemen dalam membagikan dividen dan apa yang membuat BEI memperingatkan.
Semua diawali oleh rencana manajemen yang akan membagikan dividen tahun buku 2024 sebesar Rp 300 atau total Rp 677.48 miliar.

Sumber : https://www.idnfinancials.com/id/news/53100/manajemen-lppf-usul-dividen-rp300-per-saham%2C-yield-menggiurkan
Berawal dari info ini kemudian BEI mengirim surat ke LPPF menanyakan beberapa hal terkait pembagian dividen ini dan ekuitas yang ada karena per Q4 2024 ekuitas LPPF hanya Rp 325.78 miliar.
Padahal menurut Pasal 71 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba positif.”
Kok bisa?
Oh ya buat teman-teman, mengusulkan dividen itu sah-sah saja selama kemampuan perusahaan ada. Hal ini juga dilakukan oleh ASII

Sumber : https://investasi.kontan.co.id/news/astra-asii-berniat-bagi-dividen-final-sebesar-rp-308-per-saham
Terus kenapa LPPF mendapat surat peringatan? Stock Guide mencoba menelusuri satu per satu dinamika yang ada
1. BEI memperingatkan LPPF terkait ekuitas.
Jika mengacu dari undang-undang maka langkah manajemen LPPF tidak salah karena saldo laba LPPF periode Q4 2024 sebesar Rp 3.79 triliun.

Namun berdasarkan surat dari BEI dengan nomor S-03627/BEI.PP2/04-2025 tertanggal 17 April 2025 Perihal Permintaan Penjelasan, ada 2 hal yang dipermasalahkan oleh BEI yaitu terkait ekuitasnya.
- Agar dapat dijelaskan kondisi saldo ekuitas jika setelah dilakukan pembagian dividen tunai dengan menggunakan tahun buku 2024 serta analisa manajemen terkait dengan kondisi saldo ekuitas setelah pembagian dividen tunai dengan mempertimbangkan good corporate governance (GCG) yang ada
- Agar dapat dijelaskan maksud dan tujuan manajemen dalam rencananya membagikan dividen tunai menggunakan tahun buku 2024 jika hal tersebut akan membuat ekuitas negatif.
Dan berikut tanggapan dari manajemen LPPF
Agar dapat dijelaskan kondisi saldo ekuitas jika setelah dilakukan pembagian dividen tunai dengan menggunakan tahun buku 2024 serta analisa manajemen terkait dengan kondisi saldo ekuitas setelah pembagian dividen tunai dengan mempertimbangkan good corporate governance (GCG) yang ada
Setelah membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2024, Perseroan memperkirakan dapat tetap mempertahankan ekuitas yang positif pada kuartal kedua 2025 seiring dengan kinerja berjalannya.
Dalam melakukan proyeksi ini, kami mempertimbangkan beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan Perseroan, termasuk kinerja hasil penjualan dari musim Lebaran (Maret 2025).
Perseroan senantiasa mematuhi semua peraturan yang berlaku dan mengedepankan penerapan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kami telah memenuhi seluruh ketentuan dan peraturan yang berlaku sejalan dengan komitmen kami untuk menjalankan praktik bisnis yang transparan dan berintegritas.
Agar dapat dijelaskan maksud dan tujuan manajemen dalam rencananya membagikan dividen tunai menggunakan tahun buku 2024 jika hal tersebut akan membuat ekuitas negatif.
Rencana pembagian dividen tunai atas laba tahun buku 2024 dilakukan sesuai dengan kebijakan dividen Perseroan, yang menetapkan rasio pembayaran dividen minimal sebesar 50% dari laba bersih tahunan.
Setelah membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2024, Perseroan memproyeksikan dapat tetap mempertahankan ekuitas yang positif pada kuartal kedua (Q2) tahun 2025 seiring dengan kelanjutan kinerjanya.
Sampai disini semua aman terkait langkah manajemen. Padahal yang justru menarik adalah posisi kas LPPF di Q4 2024, keyakinan dengan kinerja Q1 2025 dan hutang yang tersembunyi.
2. Laba bersih dan besaran kas LPPF di Q4 2024
Laba bersih LPPF di Q4 2024 sebesar Rp 827,65 miliar.

Dan jika LPPF membagikan dividen Rp 300 atau Rp 677.483.784.000 maka DPRnya kisaran 81.85%.
Namun yang perlu diketahui adalah proses membagi dividen itu harus menggunakan kas murni atau benar-benar uang tunai bukan hanya uang dalam akuntansi.
Sekarang kita lihat kas LPPF di Q4 2024.

Jika melihat kas yang ada jelas LPPF tidak bisa membayar dividen Rp 677.48 miliar karena sisa kas hanya Rp 398.78 miliar.
Potensi yang ada di persediaan sebesar Rp 727.54 miliar dan inipun harus terjual dulu dan tidak digunakan untuk membayar utang usaha.
Apa langkah manajemen?
3. Keyakinan dengan kinerja Q1 2025
Dalam penjelasan ke BEI, LPPF yakin dengan kinerja Q1 2025 dan hal tersebut ternyata terbukti.
Ekuitas LPPF naik menjadi Rp 1 triliun

Kas LPPF di Q1 2025 meningkat menjadi Rp 2.83 triliun

Dan kas ini bukan dari pinjaman tetapi murni dari pelanggan dan utang usaha yang belum dibayar

Ada hal yang perlu teman-teman ketahui yaitu adanya beberapa hidden information
- Kinerja Q1 2025 sudah dispill sebelum LK Q1 2025 terbit
Jawaban LPPF ke BEI tertulis tanggal 22 April 2025

dan LK Q1 2025 rilis tanggal 29 April 2025

- LPPF memang sudah tau kinerja keuangannya sebelum rilis rencana pembagian dividen Rp 300
Rencana pembagian dividen LPPF rilis di media tanggal 13 Maret 2025

Manajemen LPPF sudah yakin karena saat rilis rencana dividen sudah akhir kuartal 1 2025 dan kemungkinan besar manajemen sudah memperkirakan pendapatan di Q1 2025 serta bisa saja memang menahan utang usahanya untuk memperbesar kas.

Apakah cuma yakin dengan kinerja Q1 2025? Ternyata tidak karena manajemen sudah menyiapkan hutang cukup jumbo untuk berjaga-jaga terkait arus kasnya.
4. Hutang yang tersembunyi.
Di LK Q4 2024 dan Q1 2025 LPPF sudah menyiapkan hutang dari CIMB Niaga sebesar Rp 1.7 triliun.
Pada saat penyelesaian laporan keuangan konsolidasian, manajemen sedang dalam proses
memperpanjang Fasilitas CIMB 2 dan Fasilitas CIMB 3 dengan menandatangani surat penawaran tertanggal 17 Februari 2025.
Dan berikut isi CIMB 2
Perusahaan menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman kredit revolving senilai Rp 500.000 dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk untuk pendanaan modal kerja dan pengeluaran modal (“Fasilitas CIMB 2”). Fasilitas telah diubah beberapa kali untuk tujuan-tujuan berikut:
– Meningkatkan jumlah fasilitas menjadi Rp 1.000.000 sejak tanggal 18 Mei 2018
sampai dengan 30 November 2021
– Menurunkan plafond Fasilitas CIMB 2 menjadi Rp 700.000 sejak tanggal 1 Desember 2021;
Berikut isi CIMB 3
Pada tanggal 8 Maret 2019, Perusahaan menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman
kredit revolving baru senilai Rp 700.000 dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk untuk pendanaan
modal kerja dan pengeluaran modal (“Fasilitas CIMB 3”). Fasilitas CIMB 3 jatuh tempo pada tanggal 18 Desember 2021.
Pada tanggal 1 Desember 2021, PT Bank CIMB Niaga Tbk dan Perusahaan sepakat untuk
menambah plafond Fasilitas CIMB 3 menjadi Rp 1.000.000 dan memperpanjang jangka waktu Fasilitas CIMB 3 sampai dengan tanggal 18 Desember 2024.
Dan di siaran pers LPPF sudah memberitahukan informasi ini

https://www.idx.co.id/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/202504/6bd49862fe_310f698378.pdf
Dan media juga sudah mengumumkan terkait pinjaman ini
Susanto, Corporate Secretary Matahari Store, menyebut telah memiliki fasilitas pinjaman siaga alias standby credit facility dari Bank CIMB Niaga (BNGA) sebesar Rp1,7 triliun. Pinjaman siaga tersebut dapat ditarik sewaktu-waktu kalau dibutuhkan. Fasilitas itu, sebagai bentuk mitigasi risiko, dan untuk menjaga kelonggaran keuangan.
Jadi langkah LPPF membagikan dividen cukup jumbo (berdasar harga penutupan tanggal 10 Juli 2025 sebesar Rp 1715 maka div yieldnya 17.49%) sudah direncanakan secara matang
- sudah bersiap untuk menurunkan hutang
- sudah mengetahui kinerja keuangan Q1 2025
- sudah menyiapkan plan terkait pembayaran utang usahanya (ini analisa kami bukan dari manajemen ya)
Apakah langkah manajemen berani? Menurut Stock Guide berani secara akuntansi karena kasnya sedikit istilahnya berani tetapi sudah direncanakan.
Apakah LPPF mau dimasukkan ke portofolio dividen investor? Jawabannya ada di KOMUNITAS DIVIDEN INVESTING
Di dalam grup ada 20 list emiten yang berpotensi membagikan div yield di atas 10% beserta perkiraan dividennya.
=======
Mau baca terkait DIVIDEN INVESTING? Klik DISINI
Mau baca ANALISA terbaru saham? Klik DISINI
Mau baca INSIGHT yang lebih dalam? Klik DISINI
Mau baca MATERI tentang saham untuk investor pemula? Klik DISINI
Mau menggunakan Kalkulator khusus Saham? Klik DISINI

