ERAA Lap Keu Q4 2021 : EPS Q4 Yang Turun Dan Diversifikasi Bisnis Yang Melebar
A. SEKILAS PERUSAHAAN
Nama : PT Erajaya Swasembada Tbk
Kode : ERAA
Sektor : Sektor Perdagangan, Jasa & Investasi
Sub sektor : Perdagangan Eceran
Download Lap Keu Q4 Tahun 2021
B. BERITA
Pemerintah telah secara resmi menaikkan besaran pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen mulai 1 April 2022. Meski demikian, emiten ritel produk elektronik PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menyebutkan bahwa sejauh ini perusahaan tidak menyesuaikan harga jual.
Head of Investor Relation & Business Development Erajaya Swasembada Yan Stephanus mengemukakan bahwa kebijakan harga produk akan tergantung pada perusahaan prinsipal atau perusahaan manufaktur produsen produk terkait.
Untuk menambah pendapatan di masa depan, ERAA terus melakukan diversifikasi bisnis agar mendapat amunisi baru untuk mempertebal pundi-pundinya di masa depan.
Erajaya sebelumnya mengumumkan rencana pembentukan joint venture (JV) dengan Mobile World (MWG), yaitu peritel elektronik terbesar di Vietnam, untuk menjual alat elektronik. Ekspansi ini diharapkan membuka peluang bisnis baru dengan pemerintah yang secara bertahap beralih dari siaran TV analog ke digital pada April-November 2022.
Melalui anak usahanya, Erajaya Beauty and Wellness (EBW) bekerja sama dengan CARiNG Pharmacy Retail Management Sdn Bhd (CPRM), anak perusahaan 7-Eleven Malaysia Holdings Berhad bersepakat membangun PT Era Caring Indonesia yang akan bekerjasama dengan PT Era Farma Indonesia dalam menjalankan jaringan apotek dan layanan kesehatan dengan nama Apotek Wellings.
Erajaya merencanakan outlet Apotek Wellings pertama di Indonesia akan dibuka pada kuartal kedua 2022 di Jakarta.
Tidak hanya ke bisnis apotek, ERAA juga masuk ke sektor kuliner dengan mengumumkan pembentukan perusahaan patungan bersama Paris Baguette (PB).
Melalui kerja sama PB dan anak usaha ERAA, Erajaya Food & Nourishment, Paris Baguette sebagai fast-casual bakery populer dari Korea Selatan yang terkenal dengan kue, roti dan cake yang inovatif dan berkualitas, resmi memasuki pasar Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai basis ke empat Paris Baguette di Asia Tenggara.
CEO of Erajaya Food and Nourishment Gabrielle Halim mengatakan, masuknya Paris Baguette ke Indonesia membawa angin segar ke industri F&B. Dengan menghadirkan konsep kuliner yang berbeda dan koleksi makanan lezat yang dibuat dengan bahan-bahan premium, akan memuaskan cita rasa pengagumnya.
Outlet Paris Baguette yang pertama di Indonesia telah dibuka pada November 2021 di Jakarta, dan akan dioperasikan oleh anak perusahaan EFN, Era Boga Patiserindo.
Selain dengan Paris Baguette (PB), bulan Juli lalu ERAA membeli 20 persen kepemilikan saham pada PT Sushi Tei Indonesia.
Saat ini, ERAA juga menjadi operator dari 35 toko The Face Shop dan menargetkan untuk membuka gerai JD Sports yang merupakan retailer untuk produk sports-fashion yang telah beroperasi di berbagai negara.
C. SEKILAS LAPORAN KEUANGAN
ERAA telah merilis laporan keuangan Q4 tahun 2021 dengan pertumbuhan EPS yang sangat signifikan dibanding tahun 2020.

EPS tahun 2020 hanya Rp 38 dan EPS tahun 2021 ini sebesar Rp 63 atau naik sebesar 65%.
Hal penunjang pertama adalah kenaikan pendapatan di tahun 2021 sebesar Rp 43.4 triliun dibanding tahun 2020 sebesar Rp 34.1 triliun atau naik sebesar 27%.

Lini bisnis telepon seluler dan tablet menjadi penyumbang terbesar pendapatan sebesar Rp 34.3 triliun diikuti produk operator sebesar Rp 3.4 triliun.
Kenaikan pendapatan ini diikuti dengan kenaikan beban sebesar 25%.
Tercatat beban pokok penjualan terbesar adalah pembelian produk dari Apple, Samsung dan Xiaomi.

Sedangkan beban penjualan dan distribusi membengkak menjadi Rp 2.1 triliun dibanding tahun 2020 sebesar Rp 1.4 triliun.
Beban terbesar ditanggung untuk biaya iklan dan promosi yang nilainya mencapai Rp 788 Milyar di tahun 2021 dibanding tahun 2020 yang hanya Rp 320 Milyar. Naik 100% lebih.

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat sebesar 65% dari Rp 612 Milyar di tahun 2020 menjadi Rp 1.01 triliun.
D. PEMBAHASAN LAPORAN KEUANGAN
Ada 2 hal yang akan menjadi pembahasan utama di artikel terkait ERAA ini yaitu
1. EPS Q3 dan Q4 tahun 2021 yang lebih rendah dibanding EPS Q3 dan Q4 tahun 2021
2. Diversifikasi ala ERAA yang melebar dari core bisnis utamanya walopun mungkin masih dalam 1 konsep
Jika kita kembali melihat EPS dari ERAA ini maka akan terlihat bahwa EPS di Q3 dan Q4 tahun 2020 justru lebih besar dibanding EPS di Q3 dan Q4 tahun 2021

Mengapa bisa demikian?
Pertama kita perlu menelusuri Q3 tahun 2020 dan Q3 tahun 2021 dengan pemecahan seperti perhitungan yang ada di ISSP disini
Saya hanya akan menelusuri EPS Q4 2020 dan EPS 2021 saja karena lebih signifikan perbedaannya.

Gambar di atas adalah laporan laba rugi ERAA murni di Q4 2020 dan Q4 2021.
Terlihat bahwa pendapatan dan beban penjualan ERAA di Q4 2021 lebih besar tetapi pendapatannya lebih tinggi dibanding beban pokoknya sehingga tetap menghasilkan laba kotor yang lebih tinggi dibanding Q4 2020.
Namun di Q4 2020 ada tambahan yang signifikan yaitu
- pendapatan lain-lain yang lebih besar
- beban penjualan dan distribusi yang jauh lebih kecil
- beban lain-lain yang justru positif (di gambar ada tanda – dalam beban artinya +)
sehingga membuat laba sebelum pajak dan laba tahun berjalan menjadi lebih besar dibanding Q4 2021.
Inilah penyebab mengapa EPS Q4 2020 lebih besar dibanding Q4 2021.
Untuk poin kedua yaitu tentang diversifikasi ERAA yang melebar dari core bisnis utamanya menurut saya sah-sah saja namun sebaiknya pelebaran bisnis masih bersisian dengan core bisnis utamanya yaitu tentang gadget.
Eh bukannya bisnis ERAA adalah distribusi gadget ya berarti bisa donk bisnis distribusi barang lain? Itu juga bisa saja tetapi bisnis barang di luar corenya tentu memiliki problem yang berbeda dibanding bisnis gadget.
Ada 2 perusahaan yang menurut saya layak dijadikan sebagai bahan diskusi terkait pelebaran bisnis yaitu Amazon dan MICE (PT Multi Indocitra Tbk).
Bisnis inti Amazon adalah menjual berbagai barang menggunakan toko online. Karena infrastruktur toko onlinenya sudah sangat kuat maka Amazon sekalian menjualnya untuk perusahaan lain dan jadilah Amazon Web Services.
Berikut kutipan dari web Kompas (Sumber di akhir artikel)
Secara keseluruhan, pendapatan usaha Amazon selama kuartal I tahun ini mencapai 108,5 miliar dollar AS, tumbuh 44 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Jumlah tersebut juga melampaui perkiraan analis Wall Street di kisaran 104,5 miliar dollar AS.
Lini bisnis komputasi awan atau cloud perusahaan, Amazon Web Services mencatatkan pendapatan bersih sebesar 13,5 miliar dollar AS di kuartal I-2021 atau meningkat 32 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Amazon Web Services merupakan salah satu lini bisnis Amazon yang menyumbangkan pendapatan terbesar kepada induk perusahaan. Percepatan pertumbuhan pendapatan lini bisnis cloud tersebut ditopang oleh kain banyaknya perusahaan yang mengadaptasi teknologi untuk membantu pola kerja yang kian fleksibel.
Contoh perusahaan terbuka di Indonesia yang menerapkan konsep yang sama adalah MICE atau (PT Multi Indocitra Tbk).
Konsep bisnis utama mereka adalah menjual dan mendistribusi produk dari brand sendiri dan brand perusahaan lain.
Karena infrastruktur untuk brand sendiri sudah ada maka mereka bisa menjual infrastruktur ini ke brand lain. Selengkapnya bisa dibaca di artikel disini Multi Indocitra Tbk (MICE).
Walopun sedikit kurang setuju namun kita tetap berharap diversifikasi ini bisa menambah pendapatan bagi ERAA di tahun-tahun mendatang.
Berikut ini rekapan aset, hutang serta pendapatan lini bisnis ERAA

Dalam ribuan
Yang sudah terlihat memberikan pemasukan bagi ERAA adalah Sushi Tei dengan laba tahun berjalan sebesar Rp 35 Milyar.
Oh ya teman-teman bisa membaca detail tentang anak usaha ERAA ini di link ini.
E. KESIMPULAN PEMBAHASAN
Adanya beban penjualan yang besar membuat EPS Q4 2021 lebih kecil dibanding EPS Q4 2020. Menurut saya tidak menganggu secara bisnis dari ERAA.
Namun kita tetap perlu memantau untuk beban distribusi ini di Q1 2022.
Asalkan beban distribusi ini lebih kecil dibanding dengan pendapatan maka akan tetap aman.
F. RASIO PERUSAHAAN
1. EPS

EPS tahun 2021 meningkat sangat signifikan dibanding EPS 2020 karena ditopang oleh EPS Q1 dan Q2 yang tinggi.
Kenapa EPS Q3 2021 turun karena memang turunnya pendapatan dan kenapa Q4 tahun 2021 menurun karena adanya beban penjualan dan distribusi yang meningkat signifikan.
2. Book Value

Progress book value ERAA sangat bagus dan cenderung meningkat setiap tahun.
Tapi kenapa tahun 2020 dan 2021 menjadi sedikit? Karena ERAA melakukan stocksplit. Book value 2020 dan 2021 dikali 5.
3. Arus Cash Flow
- Aktivitas operasi

Arus kas dari aktivitas operasi mengalami penurunan yang lumayan tajam karena penerimaan kas dari pelanggan meningkat namun pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan juga meningkat dengan pesat.
Tahun 2020 mendapat Rp 2.8 triliun dan tahun 2021 hanya mendapat Rp 21 Milyar.
Kita perlu membaca bagian persediaan dan bagian gaji karyawan untuk mengetahui apakah memang ada peningkatan yang signifikan.
Pembayaran kas yang besar berikutnya di bagian pajak penghasilan.
- Aktivitas investasi
Untuk arus kas dari aktivitas investasi tidak saya bahas karena tidak ada efek yang signifikan.
- Aktivitas pendanaan

G. KESIMPULAN
1. Rasio-Rasio Penting
Harga : 540 (harga penutupan tanggal 14/04/2022)
EPS : 63 (annualized)
Book Value : 385 (annualized)
Harga Wajar : 739 (Graham Number)
MOS : 27%
PER : 8.51
PBV : 1.40
GPM : 11.06
NPM : 2.33%
ROE : 16.49%
2. Analisa InveStory ID
Kesimpulan menggunakan harga Rp 540 berdasar Laporan Keuangan Full Tahun 2021 adalah ERAA layak masuk sebagai
- value stock karena memang masih undervalue
- growth stock karena melihat perkembangan EPSnya yang semakin kesini semakin bagus walopun ada catatan sesuai yang dibahas di atas
- core stock karena kekuatan brand yang sudah mengakar di masyarakat
Sangat jarang emiten yang bisa masuk di 3 jenis stock seperti di atas karena pada umumnya jika sudah masuk ke growth biasanya sudah mahal atau belum cukup dijadikan sebagai core stock. Kenapa? Kekuatan brandnya biasanya masih berkembang.
Selain itu langkah manajemen yang terus membuka peluang usaha di bidang lain juga selayaknya kita tunggu hasilnya walopun seperti diulas di atas bahwa saya sendiri kurang setuju dengan diversifikasi yang tidak terkait dengan core bisnisnya.
3. Harga Beli & Harga Jual
Harga Wajar : 739 (Graham Number)
Target Profit :
Isikan :
- target harga = harga wajar saham
- harga sekarang = harga saham milik kita
Kita bisa menentukan target profit yang diinginkan dengan cara memasukkan harga pembelian kita dan harga wajar saham tersebut.
Semisal kita ingin mendapatkan target profit 40% di saham ERAA ini maka harga maksimal yang masih bisa kita beli adalah Rp525.
Namun jika kita mempunyai target keuntungan 25% saja maka harga maksimal yang bisa kita beli adalah Rp 590.
Saham yang kita beli bisa naik dan turun dan sebagai antisipasinya kita bisa melakukan average down jika memang kinerjanya masih stabil.
Adapun average down yang baik saat harganya turun 15% agar kita tidak kehabisan modal.
Masukkan harga milik kita dan masukkan berapa persentase penurunannya maka kita akan mengetahui di harga berapa sebaiknya kita melakukan avg down.
Bagaimana dengan titik jualnya?
Kita bisa menggunakan 2 metode yaitu ketika sudah sampai di harga wajarnya dan sudah mendapat keuntungan tertentu.
Saya menyertakan kalkulator agar teman-teman bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk menjual sahamnya.
Itulah analisa tentang ERAA berdasar Lap Keuangan Kuartal 4 Tahun 2021
Sumber :

