Kenapa Dengan SRTG Di Q2 2022?

Selalu menarik membahas SRTG (PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. ) karena di periode Q2 2022 ini kinerja EPSnya merah.

Apakah penyebab EPS periode Q2 2022 merah?

Berapakah pendapatan asli SRTG?

Apakah SRTG seperti Berkshire Hathaway?

Kenapa tidak mau masuk ke SRTG?

Semua pertanyaan di atas akan saya ulas satu per satu

1. Apakah penyebab EPS periode Q2 2022 merah?

Ini adalah tampilan update EPS SRTG menggunakan aplikasi RTI.

Disitu terlihat bahwa EPS Q2 2022 SRTG minus Rp 19.

Kok bisa? Bukankah di Lap Keunya Rp 245?

Iya di lapkeu tertulis 245 tetapi angka ini gabungan lap keu Q1 2022 dan Q2 2022. Dan asal tau saja bahwa EPS Q1 2022 SRTG sebesar Rp 264 dan total EPS Q2 2022 sebesar Rp 245 artinya Q2 2022 SRTG sebesar Rp -19.

Yang pertama tentu saja kita harus melacak kinerja laba rugi SRTG dari topline hingga bottom linenya.

Dimulai dari keuntungan Neto atas investasi yang turun dari Rp 14.4 triliun menjadi hanya Rp 2.7 triliun.

Apa penyebabnya?

Ternyata ada 2 penyebab yaitu

  1. menurunnya nilai investasi SRTG di bluechip
  2. menurunnya nilai investasi SRTG di perusahaan berkembang.

Sekarang kita pantau apa saja perusahaan yang masuk kategori bluechip dan perusahaan yang masuk sebagai perusahaan berkembang.

bluechip

Sekarang kita lihat kinerja saham dari ketiga perusahaan di atas dalam 1 tahun terakhir

TBIG

MDKA

ADRO

Jika melihat kinerja saham dari ketiga emiten di atas SRTG cuan besar di saham MDKA dan ADRo. Namun cerita berbeda di saham TBIG karena harganya relatif sideways.

Berarti harusnya relatif sama donk dengan Q1 2021 bahkan seharusnya cuan besar-besaran?

Harusnya iya tetapi SRTG telah melakukan aksi korporasi yaitu menjual saham TBIG yang dikuasai anak usaha yaitu PT Wahana Anugerah Sejahtera kepada Bersama Digital Infrastructure Asia Pte Ltd.

Sekadar informasi bahwa Bersama Digital Infrastructure adalah entitas yang didirikan berdasarkan hukum negara Singapura dan dimiliki 35,17% oleh Lynwood Hills Investment Solution Pte Ltd. Di mana, Lynwood 100% sahamnya dikuasai oleh Wahana Anugerah Sejahtera yang merupakan entitas anak usaha dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Proses transaksi ini terlihat di bagian arus kas aktivitas operasi dimana ada penambahan dana hingga Rp 18.2 triliun.

Teman-teman bisa membaca detail lanjutannya disini

Sumber : https://idx.co.id/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/202204/873405478d_4ca2f1823b.pdf

Jadi sudah tau ya kira-kira kenapa investasi SRTG di bluechip menurun karena kepemilikan langsung melalui anak usahanya menurun

Dan berikut ini nama-nama perusahaan berkembang yang diinvestasi oleh SRTG dengan status publik

MPPX

PALM

AGII

NRCA

Sekilas jika kita melihat kinerja saham emiten perusahaan berkembang publik yang dipegang oleh SRTG kebanyakan tetap cuan. Tapi kok bisa SRTG menderita kerugian kisaran Rp 1.8 triliun?

Tidak ada keterangan khusus namun sepertinya SRTG menderita kerugian di perusahaan berkembang non publik.

Itu pembahasan pertama terkait kenapa topline dari SRTG menurun.

SRTG sudah melakukan aksi korporasi baik menjual kemudian membeli kembali perusahaan, apakah ada uang kas yang masuk?

Pembahasan ini di poin di bawah ini

2. Berapakah pendapatan asli SRTG?

Di artikel DISINI saya sudah menjelaskan bahwa ketika membuka lap keu SRTG yang diperhatikan pertama bukan keuntungan neto atas investasi tetapi langsung masuk ke bagian pendapatan dividen dan bagian pajak.

Karena 2 item inilah yang benar-benar mendatangkan cash bagi SRTG.

Sekarang kita buka bagian pendapatan dividen

Ada uang masuk kisaran Rp 1,366 triliun dari dividen dan hal ini juga tercatat di bagian arus kas

Jika ada pertanyaan kok beda nominal antara pendapatan dividen di laba rugi dan di bagian arus kas? Karena laba rugi mencatat dividen yang tercatat saja dan arus kas mencatat uang kasnya.

Contoh kalo ada perusahaan dibawah SRTG membagi dividen bulan maret dan uangnya masuk bulan april maka di lap laba rugi tidak tercatat di kuartal 2 tapi pas uang masuk di bulan april baru dicatat uang dividennya di kuartal 2.

Yang membagi dividen di periode Q2 2022 yaitu :

  • ADRO (141)
  • TBIG (32 + 36)
  • AGII (10.06)
  • MPMX (180)
  • NRCA (15)

Berapa yang masuk dan diakui sebagai penghasilan bagi SRTG di periode Q2 2022?

Yang diakui sebagai pajak adalah kisaran Rp 2.6 triliun dari potensi pendapatan Rp 3.8 triliun.

Bandingkan dengan periode Q2 2021 yang keuntungan netonya tembus Rp 15.1 triliun tapi pendapatan aslinya hanya kisaran Rp 705.1 miliar.

3. Apakah SRTG seperti Berkshire Hathaway?

Tentu saja banyak yang menganggap bahwa SRTG mirip BK karena sama-sama sebagai perusahaan investasi.

Tapi ada 1 perbedaan yang signifikan dan ini menjadi pembeda utama BK dan SRTG yaitu masa periode hold dari perusahaan yang diinvest.

BK akan selalu keep atau hold forever untuk emiten yang memiliki kinerja terbukti baik. Berbeda dengan SRTG yang tentu saja siap menjual perusahaan tersebut jika ada penawaran yang menarik atau kinerja perusahaan yang diinvestnya menurun atau tidak sesuai standar.

Simak penjelasannya di bawah ini

Tapi secara umum konsepnya sama antara BK dan SRTG.

4. Kenapa tidak mau masuk ke SRTG?

Secara umum saya lebih suka perusahaan yang memang langsung menjalankan bisnisnya dibanding perusahaan yang berinvestasi di perusahaan yang menjalankan bisnis.

Ambil contoh paling gampang adalah misal kita berinvestasi di ADRO atau MPMX kita bisa mendapat cuan dari dividennya. Sekarang bandingkan dengan dividen yang didapat dari SRTG walopun SRTG mendapat dividen dari ADRO dan MPMX.

Pembahasan emiten MPMX bisa dibaca disini MPMX Kok Harganya Turun Terus Ya? Kinerjanya Menurun Atau Hanya Mekanisme Pasar?

Berinvestasi di SRTG seperti halnya berinvestasi di reksadana. Kalo buat pemula dibanding milih reksadana sih mending milih SRTG saja ya…

Alasan lainnya karena telat juga untuk masuk…hehe.

Intinya sih SRTG merupakan perusahaan bagus di tangan yang tepat.

Sumber :

1. https://katadata.co.id/

(Visited 102 times, 1 visits today)

Artikel terkait...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *