BSSR Q1 2022 : SELL Or Buy Or Hold?
A. SEKILAS PERUSAHAAN
Nama : PT Baramulti Suksessarana Tbk
Kode : BSSR
IPO : 08 November 2012
B. BISNIS
Kegiatan utama Perusahaan adalah bidang pertambangan batubara, perdagangan, transportasi darat dan industri.
C. ANALISA
Kita semua tau bahwa harga batubara sudah sangat tinggi bahkan kisaran USD 400/ ton.
Jika harga batubaranya sudah tinggi maka umumnya harga saham para emiten yang berhubungan dengan batubara juga sudah tinggi.
Agak susah di pertengahan tahun 2022 menemukan saham batubara yang secara umum masih murah dan harganya bukannya naik tetapi justru turun.
Tetapi ternyata ada 1 saham batubara yang mungkin terkena apes saja. Perusahaan tersebut adalah BSSR.
Jika diperhatikan grafik harga saham BSSR sejak awal tahun maka terlihat hmmm….

Dibuka per tanggal 03 Januari 2022 di harga Rp 4430 kemudian ambles ke harga Rp 2700 (22 Februari 2022)
Kemudian naik lagi hingga tembus ke harga Rp 5025 tanggal 28 April 2022 kemudian turun lagi ke harga Rp 3600 tanggal 31 Mei 2022.
Kok bisa ya? Itulah bursa saham. Namun saya akan mencoba membuat 2 analisa yang menurut saya agak relevan dan menjadi peluang bagi kita yang belum punya saham batubara atau mau menambah saham batubara. Problem BSSR itu ada 2 yaitu
1. EPS Q1 2022 yang turun di luar dugaan
2. Harga sahamnya yang ambrol karena dividen trap
Saya akan mencoba merajut cerita dari berbagai sumber terkait mengapa EPS Q1 2022 turun.

EPS Q1 2022 sangat rendah jika dibanding dengan EPS q2, q3 dan q4 tahun 2021 padahal perusahaan lain di sektor batubara semua terbang tinggi.
Ternyata masalahnya adalah adanya konflik terkait lahan. Hal ini dicetuskan di Laporan Informasi atau Fakta Material yang dipublish oleh emiten tanggal 11 Mei 2022.

Sumber : https://idx.co.id/StaticData/NewsAndAnnouncement/ANNOUNCEMENTSTOCK/From_EREP/202205/79f6ecae58_bb548a0cd6.pdf
Kami menelusuri terkait persediaan di periode Q4 2021 sebagai berikut

Bisa terlihat kenaikannya sangat signifikan. Dan ternyata persediaan ini masih kembali bertambah di Q1 2022

Akhirnya kami telusuri terkait konflik kepemilikan lahan ini dan berikut beberapa berita yang terkait konflik lahan tersebut
Seperti diketahui sejak 28 November 2021, PT AGM telah menghentikan operasional pengiriman batubara, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan DMO, setelah jalan dekat Underpass KM 101 Jl. A Yani yang dimiliki PT TCT ditutup.
PT AGM, anak usaha PT Baramulti Suksessarana Tbk, mengklaim hak untuk melewati jalan hauling tersebut berdasarkan perjanjian antara PT AGM dan PT Anugerah Tapin Persada (PT ATP) pailit pada tahun 2010. PT TCT menyatakan tidak terikat dengan perjanjian tersebut karena bukan pihak dan telah membeli kembali tanah di Underpass KM 101 Jl. A. Yani dari masyarakat secara sah.
Artikel bisa diakses disini
PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) buka suara terhadap pernyataan yang menuduh anak usaha perseroan PT Antang Gunung Merantus (AGM) menggunakan tanah milik pihak lain sebagai jalan akses pelabuhan untuk mengangkut batu bara.
Sebelumnya, sebuah kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda Mahasiswa Indonesia Raya (Alpalmar) berunjuk rasa di depan Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (15/12/2021).
Kelompok ini meminta BEI memberi teguran keras terhadap BSSR, induk usaha dari AGM, terkait dugaan penyerobotan lahan tambang milik PT Tapi Coal Terminal (TCT). Sengketa ini berdampak terhadap penutupan akses pelabuhan dan terhentinya aktivitas penambangan.
Selengkapnya bisa dibaca disini. Artikel tersebut rilis tanggal 18 Desember 2021.
Namun 2 bulan kemudian konflik tersebut selesai seperti di cuplikan berita berikut ini
Aktivitas pengiriman batubara melalui jalan dekat Underpass KM 101 Jl. A Yani di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan akan beroperasi kembali menyusul kesepakatan perdamaian antara PT Tapin Coal Terminal (TCT) dan PT Antang Gunung Meratus (AGM) yang ditandatangani pada Senin, 14 Februari 2022 di Jakarta.
Kesepakatan perdamaian ini mengakhiri perselisihan kedua perusahaan terkait penutupan jalan dekat Underpass KM 101 Jl. A Yani dan jalan toll road PT AGM sepanjang 4 kilometer yang mengakibatkan penghentian operasional pengiriman batubara PT AGM sejak 28 November 2021.
“Senin (14/2), kemarin saya sudah menandatangani perjanjian perdamaian antara PT TCT dengan PT AGM,” ungkap Markus Wibisono, Direktur PT TCT seperti dikutip, Jumat (18/2/2022).
Pada kesepakatan perdamaian tersebut, PT AGM mengakui hak PT TCT atas sebidang tanah di jalan hauling dekat Underpass KM 101 Jl. A Yani dan sebaliknya PT TCT memberikan persetujuan (consent) penggunaan sebidang tanah miliknya di jalan hauling tersebut untuk pengiriman batubara PT AGM.
Selengkapnya bisa dibaca disini. Artikel di atas dirilis tanggal 18 Februari 2022
Bahkan kedua perusahaan tersebut akhirnya malah riang gembira yang beritanya bisa dibaca disini
Produsen batu bara, PT Antang Gunung Meratus (AGM) kembali mengirimkan 500 ribu metrik ton batu bara kepada PLN melalui terminal PT Tapin Coal Terminal (TCT) di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Pengiriman kembali ini membuat girang PT Tapin Coal Terminal (TCT) selaku pengelola terminal tersebut. Bahkan, batu bara yang dikirim diberikan dengan harga khusus.
Direktur PT AGM Deden Ramdhan dan Direktur PT TCT Markus A Wibisono yang menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pengiriman batubara PT AGM kepada PLN, di Jakarta pada Kamis, 20 Januari 2022.
Pengiriman untuk memenuhi penugasan kebutuhan batubara untuk kepentingan dalam negeri (DMO) bulan Januari.
“Kami menyambut baik keputusan PT AGM. Kami tidak takut merugi karena ini semua demi kepentingan negara,” kata Markus dalam keterangannya.
TCT memberikan harga khusus sebesar Rp 16.000 per metrik ton untuk pengiriman batu bara PT AGM kepada PLN. Harga kontrak yang berlaku saat ini sebesar Rp 60.000 per metrik ton.
Artinya kabar gembira bagi para holder BSSR maupun bagi orang-orang yang mau masuk ke saham BSSR.
2. Harga sahamnya yang ambrol
Apa imbas dari berita no 1 terkait menurunnya EPS di Q1 2022? Ya harga sahamnya ambrol.
Selain EPS yang turun, ambrolnya harga saham BSSR juga dikarenakan adanya dividen trap.
Dalam periode 01 Januari 2022 hingga 31 Mei 2022, BSSR membagikan 2x dividen yaitu cumdate di tanggal 10/01/2022 dan tanggal 17/05/2022.
Saya tidak mau menelusuri lebih lanjut karena nyatanya harga sahamnya sudah turun hingga Rp 3600.
Pertanyaan lanjutannya adalah apakah di harga saat ini (Rp 3600) masih layak masuk ke BSSR?
Sebelum menjawab iya atau tidak ijinkan saya sedikit menuliskan rincian beberapa rasio yang bisa dijadikan pedoman bagi kita terkait saham BSSR
Harga : 3600 (harga tanggal 31/05/2022)
EPS : 542/0.03784 (annualized) Kurs : 14349
Book Value : 1520/0.1060 (annualized) Kurs : 14349
Harga Wajar : 4305 (Graham Number)
MOS : 16%
PEG Ratio : –
PER : 6.63
PBV : 2.37
GPM : 39.11%
NPM : 21.02%
ROE : 35.72%
Jika kita menelusuri BSSR menggunakan EPS 542 dan Book Value 1520 maka didapat harga wajar kisaran Rp 4305 dengan harga saat ini masih di kisaran 3600.
Artinya BSSR dengan kondisi EPS Q1 2022 yang belum optimal saja masih di bawah harga wajar. Apalagi nanti jika penjualan sudah kembali ke “aslinya”.
Sssttt, ada informasi tambahan yaitu India sedang membuka kran impornya dan BSSR salah satu penyuplai batubara ke India

BSSR telah mengekspor batubara ke India dengan rincian sebagai berikut

Apalagi ada 1 perusahaan India yang menjadi holder BSSR yaitu Tata Power.
D. KESIMPULAN
Yes tentu saja teman-teman sudah bisa menangkap sebaiknya kita buy, hold atau sell BSSR.
Sekadar merekap terkait BSSR :
- Kemungkinan besar EPS Q2 2022 akan melonjak bahkan mungkin bisa lebih tinggi dibanding Q4 2021
- India sedang butuh-butuhnya batubara
- BSSR adalah salah satu emiten yang royal membagikan dividen
Jadi? Siap haka?

