Membedah Rumus Graham Number & Menyesuaikan Dengan IHSG
Dalam suatu diskusi di grup Stock Guide ID (Teman-teman bisa join juga DISINI), saya mengirim artikel tentang situasi dimana jika EPS jika merah, apakah yang seharusnya kita lakukan (Artikelnya bisa dibaca disini Bagaimana Kalo EPS Perusahaan Yang Kita Incar Ternyata MERAH? (Studi Kasus Saham ANJT).
Ada beberapa yang memberikan komentar dan salah satunya terkait dengan harga wajar saham.
Memang harga wajar saham ini menurut saya sangat unik karena jelas sangat subjektif.
Beda rumus, beda hasil
Beda tingkat optimisme beda hasil
Bahkan 1 rumus, dengan optimisme yang sama tetapi sektornya berbeda juga hasilnya bisa berbeda
Terakhir walopun masih undervalue tidak ada jaminan saham akan mencapai harga wajarnya. Sebaliknya walopun sudah overvalue, bisa saja harga emiten tetap terbang dan semakin overvalue.
Saya bahkan sampe menulis artikel tentang Mengenal Harga Wajar Saham, Fungsi Dan Kapan Emiten Mencapainya? karena saking takutnya harga wajar ini menjadi JAMINAN bahwa harga sahamnya akan naik ke harga wajarnya.
Dan memang kenyataannya banyak teman-teman investor pemula yang bertanya “Saham ABCD masih undervalue, kapan sampai ke harga wajarnya?”
Nah dalam artikel kali ini saya membahas tentang salah satu rumus yang saya gunakan yaitu harga wajar menurut Graham Number.
Benjamin Graham merupakan penulis dari buku The Intelligent Investor dan membuat rumus Graham Formula yang bisa dibaca disini GRAHAM FORMULA. Tetapi beliau juga mempunyai rumus yang disebut dengan Graham Number. (Keabsahan tentang Graham Number sebenarnya belum valid sih. Jika teman-teman menemukan kebenaran berita tentang Graham Number ini silahkan komen ya)
Perbedaan utama Graham Formula (Cek rumus Graham Formula) dan Graham Number cukup mencolok karena Graham Number ini sangat sederhana. Hanya ada 2 variabel yaitu EPS dan Book Value.
Banyak investor yang merasa bahwa rumus ini terlalu simpel, tidak uptodate bahkan bisa saja terlalu optimis karena rumus ini lebih cocok untuk pasar Amerika Serikat.
Semua itu benar.
Trus kenapa saya masih menggunakan rumus tersebut?
Karena SIMPEL. Ya tidak ada alasan lain yang ndakik-ndakik. Saya percaya karena harga wajar itu hanyalah titik dimana kita akan membeli atau tidak.
Contoh harga saham AYAM harga wajarnya 1000 dan sekarang 800. Maka saya entry dengan potensi kenaikan yang kecil tapi bisa jadi saya masuk
Tapi di momen lain ada saham KUDA dengan harga wajar 1000 dan saat ini harganya 500 tetapi saya tidak mau masuk. Lha kok bisa? Bisa aja. Kan sekali lagi harga wajar hanya menentukan titik kita beli saja.
Bisa jadi yang harga wajarnya 1000 dan sekarang harganya 500 tidak membagi dividen dan masa depannya sunset.
Tapi yang harganya sudah 800 malah punya masa depan cerah dan membagi dividen.
Sampai disini paham ya teman-teman.
Nah kembali ke rumus Graham Number.
Rumus Graham Number unsur penyusunnya yaitu EPS dan Book Value.
EPS ini menunjukkan kinerja perusahaan sedangkan Book value menunjukkan kondisi perusahaan.
Apa bedanya kinerja perusahaan dan kondisi perusahaan? Simak KONDISI PERUSAHAAN.
Kita tidak usah bingung dengan apa yang terjadi di makro ekonomi dsbnya karena dengan kondisi perusahaan yang solid dan kinerja perusahaan yang dinamis, emiten tetap bertahan.
Apakah unsur Graham Number hanya EPS dan Book Value saja? Tidak
Tetapi ada angka penyusunnya yaitu √22.5 atau akar 22.5.
Darimana angka 22.5 itu? Dari PBV 1.5 dikali PER 15. Sekali lagi unsur PBV dari Book value dan unsur PER dari EPS. Benar-benar hanya 2 kan…Tidak ribet.
Ya Benjamin Graham membuat rumus dengan perkalian angka tersebut dimana PBV 1.5 dan PER 15 adalah harga saham yang wajar.
Kita bisa mengotak atik rumus tersebut sesuai dengan keinginan kita atau disesuaikan dengan situasi di Indonesia.
Contoh kita ingin menggunakan PBV 1 dan PER 10 maka nilainya menjadi √10.
Atau kita menganggap PBV 2 dan PER 20 adalah hal yang wajar maka √40.
Bagaimana jika kita mencoba untuk menggunakan rumus Graham Number ini menggunakan PBV dan PER dari IHSG. Emang ada? Ternyata ada.

Kita bisa mengambil data PBV dan PER IHSG di web INI.
Yuk sekarang kita masukkan saham WOOD Q1 2023 ke dalam rumus Graham Number ala IHSG
EPS : 16
Book Value : 585
PER 13.13
PBV : 1.77
G N = √1.77 x 13.13 x 16 x 585 (Caranya dikali semua, jika sudah ada nilai akhir baru diakar)
G N = 466
Jika menggunakan rumus asli Graham Number
EPS : 16
Book Value : 585
PER : 15
PBV : 1.5
G N = √1.5 x 15 x 16 x 585
G N = 458
Ternyata malah lebih tinggi jika menggunakan rumus Graham Number versi IHSG. Padahal kita tau IHSG sekarang relatif sideways dengan tertingginya di kisaran 7200.
Sudah paham kan.
Sekarang teman-teman bisa leluasa menggunakan PBV dan PER yang optimis boleh, pesimis boleh bahkan realistis boleh. Yang penting sudah tau jalan cerita dari rumus Graham Number.
Nah pertanyaan berikutnya yang biasanya muncul adalah apa bisa digunakan untuk semua sektor? Menurut saya bisa-bisa saja tapi tidak bisa dipake untuk sektor yang siklikal murni seperti batubara. Kok bisa?
Iya kita kan mengguanakan rumus BV dan EPS di saat lapkeunya keluar. Bisa saja lapkeunya keluar tapi harga acuannya sudah menurun drastis atau naik drastis.
Di tahun 2020 semua harga batubara hampir wajar atau malah bisa jadi sudah overvalue karena memang EPSnya jelas sedikit. Tapi di tahun 2022 hampir semua emiten batubara sangat sangat undervalue karena EPSnya melonjak.
Trus gimana donk mencari harga wajar saham emiten siklikal?
Caranya
1. Lihat aja PBV karena di Book value ini ada unsur persediaan dan aset yang menjelaskan kondisi perusahaan
2. Beli saat EPS minus (Nah kan EPS merah malah bisa jadi peluang to)
3. Beli saat komoditas acuannya sedang rendah
Paham ya. Eh kok enggak dihitung harga wajarnya? Ya memang tidak perlu kok. Hehehe.


hasil dr hitungannya kok menunjukkan hrga dari emiten saat ini
Maksudnya gimana om?