INTP Q1 2022 : Yakin Hanya Karena Batubara?
A. SEKILAS PERUSAHAAN
Nama : PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk /
ooi44
Kode : INTP
IPO : 05 Desember 1989
B. BISNIS
Kegiatan usaha dalam perusahaan adalah
– pabrikasi semen dan bahan-bahan bangunan,
– pertambangan,
– konstruksi,
– perdagangan,
– angkutan darat dan laut,
– pembangkitan tenaga listrik,
– pengelolaan dan pengolahan air dan limbah, termasuk jasa yang mendukung aktivitas Perusahaan.
Saat ini, Perusahaan dan Entitas Anaknya (selanjutnya disebut “Kelompok Usaha”) bergerak dalam beberapa bidang usaha yang meliputi pabrikasi dan penjualan semen (sebagai usaha inti) dan beton siap pakai, serta
tambang agregat.
C. ANALISA
Melihat EPS dari INTP untuk periode Q1 2022 terjun dengan bebas baik untuk per kuartal maupun annualizednya

Bisa dibayangkan seharusnya para holder saham INTP akan takut dan kecewa.
Namun tentu saja bagi para pembaca Stock Guide ID harus membaca artikel ini terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu apakah mau hold, sell, atau bahkan berani buy.
EPS adalah bottom line dari sebuah laporan laba rugi yang didalamnya ada berbagai faktor yaitu ada pos
- pendapatan
- beban pokok pendapatan
- beban administrasi dan beban lainnya
- pendapatan lainnya hingga
- pajak
Ketika mengetahui bottom line dari INTP ini yaitu EPSnya turun maka kita perlu mencari tahu dari toplinenya yaitu pendapatan dan beban pokok pendapatan
Apakah memang pendapatannya turun?
Apakah hanya karena beban pokok pendapatan yang naik?
Atau ada faktor lain yang membuat EPS INTP ambyar?
Yuk disimak pelan-pelan ya
Kita awali dengan rangkuman berita dari berbagai sumber
a. INTP tidak mendapat jatah batubara DMO sehingga beban bahan bakarnya naik
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Antonius Marcos mengatakan bahwa penurunan laba bersih INTP karena adanya kenaikan biaya energi yang sangat signifikan akibat naiknya harga batubara hampir tiga kali lipat.
Biaya energi kurang lebih mewakili 40% dari total biaya produksi semen sehingga, kenaikan harga beli batubara tentunya mengakibatkan kenaikan yang signifikan pada ongkos produksi semen milik INTP.
Dalam laporan keuangan, beban pokok pendapatan INTP terpantau naik 11,07% menjadi Rp 2,59 triliun dari sebelumnya Rp 2,33 triliun. Salah satu komponen yang naik adalah beban bahan bakar dan listrik yang naik 53,12% menjadi Rp 1,42 triliun dari sebelumnya Rp 928,56 miliar.
“Perlu diketahui sampai dengan akhir Maret 2022, kami belum mendapatkan sama sekali alokasi harga beli batubara sesuai harga domestic market obligation (DMO),” terang Marcos kepada Kontan.co.id, Selasa (17/5).
Oleh karena itu, produsen semen merk Tiga Roda ini berharap agar pihak Pemerintah melalui Dirjen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dapat mengeluarkan kebijakan kebijakan yang tegas agar semua pemain semen mendapat perlakuan yang sama terkait dengan harga batubara dengan skema DMO.A
Ke depan, INTP akan terus berupaya bernegosiasi dengan para pemasok batubara untuk dapat mendapatkan harga batubara DMO. Selain itu, INTP juga terus meningkatkan pemakaian bahan bakar alternatif yang semakin hari jumlahnya terus meningkat.
b. Besaran batubara dan energi alternatif
Manajemen tentunya tidak tinggal diam dengan adanya kenaikan batubara dan belum terpenuhinya harga batubara menggunakan perhitungan DMO.
Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Christian Karyawijaya mengatakan penggunaan batu bara mengambil porsi hingga sebesar 40% dari total biaya produksi. Untuk itu upaya penggunakan energi alternatif untuk mengurangi batu bara merupakan langkah strategis yang terus dilakukan oleh INTP.
“Pada tahun 2021 penggunaan energi alternatif mengambil porsi sebesar 12,2% dari total kebutuhan energi batu bara yang mencapai 2 juta ton. Jumlah ini meningkat dari beberapa tahun sebelumnya sebanyak 9,3 juta ton. Sementara untuk tahun 2022 ini penggunaan energi alternatif kami targetkan bisa naik lagi sebesar 3%-4%, dan mencapai 25% pada tahun 2025” papar Christian Karyawijaya dalam Konfrensi Pers yang digelar secara virtual, Jumat (25/3/2022).
Adapun upaya penggunakan energi alternatif tadi menurut Christian diantaranya, mengolah sampah masyarakat menjadi bahan bakar di pabrik-pabrik Perseroan. “Tahun ini kami juga menginstal solar panel dengan kapasitas 25-30 MW bersama Sun Energy supaya dapat digunakan sebagai pengganti electricity terutama gas dalam memproduksi semen putih,” imbuhnya.
Langkah tidak kalah penting adalah memacu penjualan dan produksi semen hidrolik atau semen hijau. Penjualan semen hijau ini diharapkan dapat menggantikan penggunaan semen Ordinary Portland Cement (OPC) khususnya di proyek infrastruktur. “Tentu kami berharap dukungan Kementerian PUPR, Konsultan Kontrsuksi maupun pihak terkait untuk memperbesar porsi penggunaan semen hijau ini,” imbuhnya.
Kendati begitu, INTP menurutnya tetap berharap langkah kongkret terkait kebijakan DMO batu bara yang difasilitasi oleh Kementerian ESDM terhadap produsen dan suplayer batu bara agar mendapat kontrak suplai selama 1 tahun sebagai disampaikan ESDM. “Kalau DMO tidak bisa berlaku untuk semua pabrikan ini akan berefek negatif bagi industri kita, karena kita tidak bisa berkompetisi seimbang antara 1 produsen dengan lainnya. Kami yakin pemerintah akan memikirkan hal ini.
c. Volume penjualan yang menurun tetapi pendapatan meningkat
Asal tahu, INTP mengalami penurunan volume penjualan sepanjang Maret 2022. INTP mencatat volume penjualan sebesar 1.3 juta ton lebih pada periode Maret 2022. Realisasi ini sekitar 7% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sedangkan untuk akumulasi sampai dengan Maret 2022, total volume penjualan semen domestik INTP hampir mencapai 4 juta ton. Realisasi ini hampir sama dengan pencapaian di periode yang sama tahun lalu.
Marcos mengaku, penurunan penjualan pada Maret 2022 disebabkan INTP yang mulai menaikkan harga jual sebagai antisipasi dari kenaikan ongkos-ongkos produksi. Hanya saja, menurut Marcos penurunan volume penjualan ini merupakan sesuatu yang normal terjadi. “Dimana saat adanya kenaikan harga maka akan terpengaruh dengan volume penjualan, jadi ini sifatnya sementara saja,” sambung dia.
Perseroan telah menekan biaya produksi lainnya mencapai 5,9% per ton diharapkan menjadi bantalan atas kenaikan beban energi
d. sekilas outlook industri semen
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) tahun 2020, penjualan semen dalam negeri dan ekspor hanya 71,78 juta ton, dengan tingkat kegunaan dari total kapasitas produksi hanya 61,7 persen. Artinya masih ada kapasitas produksi yang tersisa.
Di sisi lain, Widodo Santoso Ketua Umum ASI pada 3 September 2021 lalu, memproyeksi pertumbuhan industri semen di Indonesia tiap tahun hanya 4 persen.
“Sehingga 2025 nanti, penjualan domestik dan ekspor hanya sekitar 88,74 juta ton dengan tingkat kegunaannya mencaoai 76,3 persen. Dari jumlah itu, tersisa 27,3 juta ton kapasitas produksi pada 2025 yang bisa dinyatakan setara dengan 10 pabrik baru,” ujar Widodo Santoso.
Kondisi kelebihan pasokan kapasitas produksi atau over supply kapasitas pada industri semen diperkirakan masih berlanjut paling tidak sampai 2030 mendatang. Hal ini membuat kondisi industri tidak kondusif dimana banyak produk semen yang tidak terserap oleh pasar.
Hal ini diperparah dengan adanya penerbitan izin pabrik semen baru di Kalimantan Timur, yang membuat ceruk pasar yang saat ini diisi oleh 15 produsen semen, harus dibagi lagi dengan pemain baru. Walaupun dari komitmennya pemain baru ini tidak akan menjual sebagian besar produksi semen ke dalam negeri.
Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia Widodo Santoso dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV, pada akhir pekan lalu, menjelaskan beberapa masalah industri semen saat ini di dalam negeri, yang bila tak ditangani akan berdampak pada soal keberlanjutan industri semen di Tanah Air.
Widodo menegaskan tidak diperlukan lagi pembangunan pabrik baru di tanah air. Menurutnya, kondisi pasar yang sudah over supply kapasitas sejak 2016 lalu ini masih akan terjadi hingga 2030.
“Kami mohon dibatalkan (izin pabrik semen baru), karena kalau dibangun dengan kondisi saat ini berat juga,” jelasnya.
Paling tidak dari hitungannya proyeksi industri pada 2025, masih kelebihan pasokan 27 – 30 juta ton. Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi 4% setiap tahun, sehingga tingkat utilisasi pabrikan masih di kisaran 76%.
Menurut Widodo kondisi kelebihan pasokan ini terjadi di berbagai pulau di Indonesia. Paling tinggi pulau Jawa, sementara di Kalimantan yang akan ketambahan pabrik baru itu, sudah kelebihan pasokan mencapai 6,4 juta ton. Dimana produksi hanya 10,3 juta ton dan konsumsi hanya 3,9 juta ton.
Sementara untuk ekspor, sendiri menurut Widodo bukan seperti membalikkan tangan, melihat banyaknya stok semen yang sulit dijual pada pasar luar negeri. Selain itu, pesaing Indonesia cukup berat dari Vietnam dan Thailand. Sehingga butuh pengawasan yang lebih ketat supaya produksi semen dari pabrikan baru itu sesuai komitmennya untuk mayoritas ekspor dan tidak bocor ke pasar domestik.
Tidak hanya persoalan kelebihan pasokan, tapi biaya produksi semen juga tengah membengkak akibat adanya kenaikan harga batu bara yang mencapai 200%. Batu bara ini digunakan sebagai material pembuatan semen hingga proses pembakaran.
“Di samping over supply, kami kena masalah kenaikan harga batubara 20% dari US$ 60 per ton menjadi US$ 160 per ton, padahal semen butuh batu bara,” jelasnya.
Menurutnya jika tidak dibantu oleh pemerintah target, maka ongkos produksi meningkat sehingga menurunkan daya saing dengan produk semen negara lain.
“Jadi kalau dia naik kita angkat tangan. Yang bahaya kalau ekspor ini bisa tertutup karena harga batu bara tinggi, biaya produksi naik US$ 5 – 6 dollar, itu bahaya, nggak akan ekspor kita,” jelasnya.
Dia pun mengusulkan pemerintah membantu dengan pengamanan pasok bahan bakar batu bara bagi industri strategis, seperti semen sesuai domestic market obligation (DMO), dan mendapat harga khusus seperti PLN.
Masalah industri semen belum berhenti di situ. Menurut Widodo rencana pengenaan pajak karbon juga menjadi masalah membuat biaya produksi meningkat.
Dimana dalam proses produksi semen membakar batu kapur yang mengeluarkan banyak Co2. Untuk 1 ton produk semen dibutuhkan paling tidak 1,1 ton batu kapur, dan hasil Co2 yang dikeluarkan sekitar 400 kg.
“Ini nggak bisa diapa-apakan karena nggak ada penggantinya batu kapur. Ditambah lagi batubara juga, dari studi 1 ton semen itu sekitar 650 – 700 kg Co2 yang dikeluarkan. Kalau 1 kg di pajak US$ 5, itu ekspor hilang,” kata Widodo.
Widodo juga mengusulkan industri semen tidak dibebani penerapan pajak karbon karena membuat mahal biaya produksi, namun diusulkan diganti menjadi carbon trading atau perdagangan karbon.
Widodo berharap program infrastruktur dan perumahan pemerintah ditambah dan lancar. Imbasnya permintaan semen di dalam negeri juga akan terus meningkat di tengah kondisi over kapasitas produksi.
“Kami harap program infrastruktur dan perumahan pemerintah lancar, jadi teman – teman bisa mendistribusikan semen dan tidak menderita. Empat tahun ini hanya utilisasi 50% – 70%. Semoga industri semen tetap berkelanjutan dan ada pemecahan masalah ini oleh pemerintah,” katanya.
e. target INTP tahun 2022
Adapun terkait target volume penjualan dan produksi, tahun ini INTP membidik pertumbuhan sebesar 5%. “Target ini sesuai dengan tren permintaan industri,” imbuhnya. INTP sendiri memperkirakan konsumsi semen nasional akan tumbuh 4-5% tahun ini seiring dengan terjadinya pelonggaran PPKM, serta menggeliatnya proyek-proyek infrastruktur.
Apakah memang pendapatannya turun? Atau hanya karena beban pokok pendapatan yang naik?
Ya ditengah gonjang ganjing industri semen dan diperparah dengan beban produksi yang meningkat karena harga batubara meningkat membuat kita tentu bertanya apakah pendapatan INTP di kuartal 1 tahun 2019 hingga 2022 ini menurun, stabil atau justru meningkat.

Bisa dilihat sekilas sebenarnya pendapatan Q1 2022 INTP hanya kalah dengan pendapatan tahun 2019.
Namun kenaikan pendapatannya juga diikuti dengan kenaikan beban pokoknya sehingga laba kotornya justru menjadi paling rendah.
Artinya bukan pendapatannya yang berkurang tetapi bebannya yang naik yang sebagian besarnya disumbang oleh kenaikan batubara.
Berarti kalo batubara harganya murah maka laba INTP akan naik lagi? Kemungkinan iya.
Atau ada faktor lain yang membuat EPS INTP ambyar?
Menurut saya sih tidak ada karena semua normal saja kecuali beban pokok pendapatannya.
Kabar gembiranya adalah walopun kinerja EPS terus merosot, ada optimisme dari direksi terkait dengan kinerja INTP di masa depan dengan adanya corporate action berupa pembelian kembali sahamnya.
INTP berharap dengan perpanjangan periode buyback ini akan memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham. Selain itu, perpanjangan periode buyback juga meningkatkan kepercayaan investor sehingga harga saham INTP dapat mencerminkan kondisi fundamental Indocement yang sebenarnya.
Pada Desember 2021, INTP mengumumkan rencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham. Pembelian kembali saham ini seiring dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. INTP berencana melakukan buyback dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp 3 triliun.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Antonius Marcos dalam keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia, Jumat (4/3).
Antonius menekankan tidak ada dampak khusus terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha dari kegiatan perpanjangan buyback ini.
D. KESIMPULAN
Dengan melihat industri semen dan industri pendukungnya yaitu batubara maka INTP menurut saya kinerjanya akan relatif slow saja.
Apakah mau membeli emiten di industri semen? Kalo saya pribadi tidak…hehe..
Sumber :
1. https://investasi.kontan.co.id/
2. https://investasi.kontan.co.id/
5. https://www.cnbcindonesia.com/
6. https://www.suarasurabaya.net/

