Bedah Saham PNLF : Value Trap Atau Benar-Benar Value Stock?
Artikel ini merupakan INSIGHT Premium dari Stock Guide ID.
Jika berkenan boleh lo memberikan tip melalui linkĀ TIP Stock Guide ID
Nantikan INSIGHT Premium lainnya ya
=====
Kalo teman-teman sedang mulai belajar value investing maka nama saham PNLF akan menjadi salah satu saham favorit yang punya “potensi” besar.
Bagaimana tidak, berdasar aplikasi RTI, saham PNLF ini
1. mempunyai EPS yang stabil

2. aset yang begitu besar jika dibandingkan dengan total hutangnya

3. book value yang trennya meningkat

4. net profit margin (NPM) sebesar 41% dan DER yang hanya kisaran 17%

5. harganya di bawah Rp 1000/ lembar (Ini IDOLA banget ala InveStory ID)
Iyalah…
InveStory ID hanya akan berinvestasi di saham yang memiliki harga di bawah Rp 1000. Kalian bisa cek salah satu saham yang kami share di Youtube kami disini Saham Fundamental Bagus Harga 100an
Dan PNLF harganya hanya Rp 176.
6. harganya masih undervalue
Jika menggunakan Graham Number dengan EPS 55 dan BV 818 = 1006.
Harga saat artikel ini ditulis di harga Rp 176 artinya PNLF ini masih mempunyai Margin of Safety 472%.
Tapi ada 2 kelemahan yang biasanya diketahui oleh pemula value investing ini yaitu :
1. tidak membagikan dividen

Perhatikan bagian DPS (Dividen per Share) yang tidak ada angkanya alias 0.
2. harganya tidak kemana-mana bahkan sejak 2005 (saya cari PNLF tidak pernah melakukan stock split)

Mulailah mereka meminta saran-saran dari para suhu value investing apakah memang PNLF itu termasuk value stock atau malah value trap.
Apa itu value trap? Yaitu jika suatu saham terlihat undervalue dengan kinerja bagus tetapi kenyataannya kebalikannya.
Dan jawaban menurut saya adalah…..Simak terus ya.
Saya juga penasaran dan akhirnya mencoba membuka Laporan Keuangan Q3 Tahun 2021 dan menemukan fakta menarik.
Ingat ya Book Value per share PNLF di angka Rp 818 (versi RTI).
Book Value hitungannya adalah total aset-total hutang
BV = 32.928.482 – 4.612.394
BV = 28.316.088
BVPS = 28.316.088 / 32.022
BVPS = 884
PBV nya menjadi 176/884 = 0.19
Sangat murah dan sangat menarik.
Namun kalian harus memahami sedikit lebih jeli bahwa ternyata pendapatan terbesar yang masuk ke dalam penghitungan aset adalah investasi pada entitas asosiasi.

Ada 20.343.101 yang ternyata berasal dari investasi pada entitas asosiasi. Apa artinya ini? Kita cek di Catatan no 8

Ternyata angka 20.343.101 adalah nilai saham yang diinvestasikan oleh PNLF ke 2 perusahaan yaitu PT Bank Pan Indonesia Tbk dan PT Laksayudha Abadi.
Angka sebesar itu bukanlah nilai yang bisa dijadikan uang cash dan berfungsi untuk membayar dividen tetapi memang hanya menjadi investasi saja untuk PNLF.
Sekarang kita mencoba untuk menghilangkan angka 20.343.101 ini dari aset maka hasilnya sebagai berikut
Aset asli : 32.928.482
Aset setelah dikurangi 20.343.101= 12.585.381
BV-nya menjadi = 12.585.381 – 4.612.394
Bv = 7.972.987
BVPS = 7.972.987/32.022
BVPS = 248
PBV = 0.7
Harga wajar dengan EPS 55 dan BV 248 = 554. MOS menjadi 215%.
Menurut saya masih menarik dan minusnya hanya karena tidak membagikan dividen.
Untuk urusan dividen ini maka kita harus memerhatikan 2 hal yaitu uangnya dan manajemennya
1. Uangnya
Dividen sendiri diambil dari keuntungan tahun tersebut atau diambilkan dari saldo laba ditahan dan per Q3 Tahun 2021 PNLF memiliki saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar 17.898.535 (dalam jutaan).

Berdoa saja dari sinilah suatu saat dividennya bisa keluar dan tiba-tiba besar seperti HEXA dan ISAT di tahun 2021.
Eh tapi kan PNLF punya cash besar banget sampe 6T

Iya memang ada cash sebesar itu tapi kan itu bukan murni uang milik PNLF tetapi milik nasabah yang membayar biaya asuransi dan uang-uang itu ditaruh ke deposito.
2. GCG atau manajemen
Seringkali dibahas kalo emiten tidak membagikan dividen itu problemnya karena pihak manajemen sudah mengambil jatah duluan melalui gaji. Kita bisa cek juga berapa rasio gaji dibanding dengan pendapatannya.
Kan tidak lucu ya kalo pendapatan misal 100 tetapi jatah buat manajemen 40 artinya pendapatan yang ada hanya untuk membayar gaji saja.
Teman-teman bisa cek tentang beban gaji untuk mengetahui gaji manajemen dan transaksi afiliasi untuk mencari tau aliran uang ke PSP.
Nah berbicara tentang GCG sebaiknya kita juga browsing terkait siapa pemilik dan direksi perusahaan dan apakah sedang terkena kasus atau tidak.
Trus kenapa harganya belum naik?
Menurut logika saya begini, ada saham bagus kemudian para fundamentalis menemukan saham bagus tersebut.
Namun setelah cek n ricek ternyata bagusnya hanyalah bagus dalam laporan keuangan tetapi tidak berdampak pada investor ritel sehingga saham tersebut tidak jadi dibeli.
Karena tidak jadi dibeli oleh investor fundamentalis maka harga sahamnya hanya naik dan turun sesuai dengan kehendak pasar saja bukan karena ada valuenya. Paham kan?
Gimana mau membeli PNLF?
Saran saya cuma 1. Tanyakan ke Corporate Secretary mengapa tidak mau membagi dividen dan kapan mau mulai membagi dividen.
Jika jawabannya kurang memuaskan artinya tinggalkan saja.

