Memahami Komponen Penyusun Earning per Share (EPS)

Salah satu indikator yang sangat mudah digunakan untuk melihat kinerja perusahaan adalah dengan cara melihat EPSnya atau earning per share atau laba bersih per saham.

Kenapa?

1. Karena memang sudah langsung dicantumkan di laporan keuangan di bagian Laba Rugi

Dengan langsung tercantum di Laporan Laba Rugi kita tidak perlu menghitung susah-susah.

2. Di aplikasi RTI di taruh di bagian paling atas

Jadi teman-teman bisa langsung melihat dan mengaksesnya.

Selain itu fungsi EPS juga bisa digunakan untuk menghitung harga wajar saham menggunakan rumus Graham Number maupun Graham Formula

Baca Juga : Cara Menghitung Harga Wajar Saham Menggunakan Beberapa Rumus Populer

Di artikel kali ini saya akan mencoba membedah apakah jika EPS-nya positif seperti SIDO di atas artinya memang kinerja perusahaannya bagus?

Bagaimana jika kita menemukan perusahaan yang EPS-nya naik turun tidak karuan seperti ISAT di Lap Tahunan 2021 ini

Dan bagaimana jika kita menemukan perusahaan yang EPS-nya merah?

Kita mulai pembahasan dari apa itu EPS atau earning per share atau laba bersih saham

Menurut Baridwan (1992), EPS atau earning per share atau laba bersih per saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar, dan biasanya dipakai oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan.

Rumus dari EPS ini adalah :

Laba tahun berjalan/ Total penghasilan komprehensif tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada Pemilik entitas induk dibagi jumlah saham yang beredar

Contoh EPS SIDO berdasar lap tahunan 2021 yaitu :

EPS = 1.268.263.000.000 / 30.000.000.000

EPS = 42.27

Apa saja komponen dari EPS ini?

Semua yang ada di dalam Laporan Laba Rugi merupakan komponen utama dari EPS ini, karena jika salah satu komponen ini berkurang atau bertambah maka akan mempengaruhi hasil akhir EPS.

Laporan laba rugi (Inggris: Income Statement atau Profit and Loss Statement) adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur-unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba atau rugi bersih.

Secara lengkap, komponen dalam unsur-unsur laporan keuangan laba rugi diatas adalah sebagai berikut :

1. Pendapatan Penjualan

Komponen ini biasanya diletakkan di bagian paling atas dari laporan keuangan laba rugi.

Pendapatan penjualan ini termasuk dalam pemasukan total yang masih kotor alias masih terkait dengan biaya pengeluaran perusahaan. Biaya yang keluar baik dari proses produksi sampai dengan biaya penyediaan layanan.

Pendapatan penjual setiap perusahaan tentu memiliki sejumlah sumber pemasukan atau alirannya masing-masing.

Ada yang punya sedikit sumber pemasukan hingga ada yang memiliki banyak aliran pendapatan yang digariskan terpusat menjadi pendapatan total.

2. Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Penjualan atau HPP ini juga dapat disebut sebagai Cost of Sales dalam laporan keuangan perusahaan jasa.

Hal ini karena HPP merupakan baris yang berisi laporan tentang total biaya yang dikeluarkan untuk mendukung proses produksi barang atau jasa untuk mendapat pemasukan.

Contoh biaya yang masuk dalam kategori HPP antara lain biaya tenaga kerja, keperluan bahan baku, suku cadang, dan jenis alokasi dana lainnya.

3. Beban Pemasaran

Pengeluaran dalam suatu bisnis dapat dikategorikan ke dalam bermacam kepentingan. Salah satu biaya yang perlu dikeluarkan oleh suatu perusahaan adalah beban pemasaran yang meliputi unsur promosi maupun periklanan.

4. Beban Umum dan Administrasi

Jenis beban ini meliputi seluruh biaya tidak langsung yang harus ditanggung oleh suatu badan usaha. Contohnya adalah pengeluaran bagian umum, administrasi, penjualan dan jenis pengeluaran tak langsung lainnya.

Jenis pengeluaran bisnis lain yang masuk ke dalam beban umum dan administrasi adalah biaya sewa, asuransi, gaji, upah, biaya transportasi, dan biaya operasional lainnya.

5. Laba Kotor

Di dalam laporan laba rugi, komponen penting yang selalu ada adalah informasi terkait laba kotor suatu badan usaha. Laba ini dihitung dengan cara mengurangkan HPP dari pendapatan hasil penjualan.

6. Depresiasi dan Amortisasi

Depresiasi dapat disebut juga sebagai beban penyusutan. Depresiasi dan amortisasi merupakan beban non tunai untuk keperluan biaya aset modal. Pihak akuntan akan menyebarkan pembiayaan pada aset seperti pabrik, properti dan peralatan.

7. EBITDA

Apa itu EBITDA? EBITDA adalah kependekan dari Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization atau dalam bahasa Indonesia artinya adalah pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi.

Nilai EBITDA ini dihitung dengan cara mengurangi beban umum dan administrasi dari laba kotor.

Perlu diingat bahwa pengurangan beban umum dan administrasi tersebut tidak memasukkan depresiasi dan amortisasi.

8. Pendapatan Operasional

Pendapatan operasional perusahaan juga biasa disebut sebagai EBIT atau Earnings Before Interest and Taxes. Jenis pendapatan ini didapatkan dari hasil operasi bisnis reguler suatu badan usaha.

Pendapatan operasional merupakan hasil atau laba yang didapatkan dari hasil pendapatan perusahaan yang belum dikurangkan dengan pajak, bunga, pendapatan non operasional, dan biaya operasional.

9. Pendapatan Sebelum Pajak

Pendapatan sebelum pajak juga biasa disebut sebagai EBT (Earnings Before Taxes). Cara memperoleh nilai EBT ini adalah dengan mengurangkan beban bunga dari EBIT.

EBT ini merupakan subtotal pendapatan akhir sebelum masuk ke laba bersih perusahaan.

10. Bunga

Dalam penyusunan laporan laba rugi, biasanya akan ditemukan baris yang berisi dua informasi bunga perusahaan secara terpisah.

Kedua baris terpisah tersebut diantara berisi informasi beban bunga dan pendapatan bunga. Beban bunga ini biasanya ditetapkan oleh jadwal utang.

Informasi bunga ini dipakai untuk merekonsiliasi perbedaan pendapatan operasional (EBIT) dan pendapatan sebelum pajak (EBT).

11. Pajak Penghasilan

Total pajak yang harus perusahaan bayarkan adalah meliputi pajak masa kini dan pajak masa depan. Jenis pajak penghasilan ini mengacu pada biaya pajak yang dibebankan  pada EBT.

12. Pendapatan Bersih

Cara menghitung pendapatan bersih perusahaan adalah dengan mengurangkan pajak penghasilan dari EBT. Jumlah pendapatan bersih ini nantinya akan mengalir pada laba ditahan pada neraca keuangan.

Namun sebelumnya harus dikurangi terlebih dahulu untuk setiap dividen.

13. Biaya Lainnya

Setiap badan usaha atau bisnis tentu memiliki pengeluaran khusus untuk menunjang perusahaan tersebut. Jenis pengeluaran ini umumnya meliputi :

  • Biaya pemenuhan
  • Penelitian dan pengembangan atau R&D
  • Keperluan teknologi
  • SBC atau kompensasi berbasis saham
  • Keuntungan atau kerugian penjualan investasi
  • Biaya penurunan nilai
  • Dampak nilai tukar mata uang asing
  • Biaya tambahan untuk kepentingan perusahaan lainnya

14. Jumlah lembar saham yang beredar

Banyak yang melihat penurunan EPS karena pendapatan atau beban padahal sebagian emiten mengalami penurunan EPS karena adanya jumlah lembar saham yang beredar menjadi lebih banyak sehingga mengalami penurunan

Kebayangkan angka EPS di RTI yang sederhana itu ternyata berasal dari hampir 14 komponen.

Nah teman-teman kan sudah tahu tentang EPS dan komponen yang mempengaruhinya dan kita juga perlu mengetahui apa saja kelemahan dari laporan laba rugi

1. Unsur-unsur penghasilan dan beban yang tidak bisa diukur dengan andal tidak dilaporkan dalam laporan laba rugi.

Padahal, transaksi-transaksi yang demikian, dapat juga mempengaruhi kinerja laba perusahaan.

Misalnya saja atas laba atau rugi investasi surat berharga yang tak ditujukan untuk trading, yang belum terealisasi, maka, perusahaan tidak melaporkannya di laporan laba rugi, melainkan hanya di catatan atas laporan keuangan (CALK).

Jadi, ketika surat berharga investasi perusahaan mengalami kenaikan, maka, hal tersebut diakui sebagai laba yang belum terealisasi, sedangkan, ketika mengalami penurunan, maka, hal tersebut diakui sebagai rugi yang belum terealisasi.

Terkait pengakuannya di laporan laba rugi, baik laba maupun rugi tersebut, hanya diakui bila investasi surat berharga tersebut telah dijual.

2. Jumlah laba rugi dipengaruhi oleh metode akuntansi yang dipilih dan digunakan perusahaan yang melaporkan.

Jadi, ketika kamu membandingkan kinerja laba dua perusahaan yang berada dalam suatu industri yang sama, bisa saja kamu menemukan bahwa kinerja laba perusahaan A lebih baik dibandingkan perusahaan B.

Padahal, dengan asumsi seluruh faktor terkait pendapatan dan beban sama, kinerja perusahaan A terlihat lebih besar karena dalam melakukan penyusutan atas aset pabriknya menggunakan metode garis lurus (straight line method), sedangkan perusahaan B, menggunakan metode saldo menurun ganda (double declining balance method).

Pada akhirnya, karena hal tersebut, meski dua perusahaan yang dibandingkan masih berada di industri yang sama, kenyataannya, perbandingan menjadi tidak apple-to-apple karena perbedaan metode depresiasi yang diterapkan.

3. Penghitungan laba rugi melibatkan penggunaan pertimbangan (judgement) dan estimasi sehingga obyektivitasnya diragukan.

Misalnya, terkait penentuan umur aset tetap, beberapa perusahaan dalam menilai umur ekonomisnya, mungkin saja, menetapkannya berdasarkan perhitungan teknis yang mumpuni, sedangkan, beberapa lainnya menetapkan umur aset berdasarkan kebutuhan untuk mendongkrang nilai laba saja

Sekarang kita akan belajar bahwa tidak semua EPS yang positif itu memang positif atau sebaliknya tidak semua EPS yang negatif memang negatif tetapi bisa saja ada komponen lain yang tahun sebelumnya tidak ada menjadi ada atau yang tahun sebelumnya ada tahun sekarang tidak ada.

Saya akan memberikan 5 situasi dimana komponen yang ada dalam laporan laba rugi mempengaruhi hasil EPS.

1. ISAT (PT Indosat Tbk)

Kondisi : EPS sangat positif karena ternyata menjual aset. (Teman-teman bisa membaca artikel lengkapnya disini Menelusuri Jejak Penjualan Menara di Lap Tahunan 2021 Yang Membuat Kinerja ISAT MONCER)

Begini kondisi EPS ISAT

EPSnya sangat moncer. Pasti banyak yang merasa kalo ISAT akan menjadi perusahaan turn around.

Tapi kita perlu mengecek ulang apa yang terjadi dan ternyata EPS moncer karena menjual asetnya yaitu menara

Lihat bagian yang saya beri lingkaran merah. Jika angka itu dihilangkan maka hasilnya akan sangat jauh berbeda.

2. AUTO (Astra Otoparts Tbk)

Kondisi : keuntungan laba yang diberikan oleh anak usaha bukan kinerja AUTO

Coba kalo angka itu dihilangkan angka hasilnya tentu akan berbeda signifikan.

3. ITMG (Indo Tambangraya Megah Tbk)

Kondisi : Kerugian karena adanya swab kontrak

Di poin Lain-lain ada angka yang jomplang. Kita bisa langsung baca di CLknya di poin no 29 yaitu

4. ISSP (PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk)

Kondisi : Kerugian karena adanya selisih kurs

Ada angka yang selisihnya sangat besar antara q1 tahun 2019 dengan q1 tahun 2020.

Kita perlu kembali menelusuri dan menemukan bahwa perbedaan angka tersebut karena adanya rugi selisih kurs.

Kerugian selisih kurs adalah kerugian yang disebabkan kurs nilai tukar antara dua mata uang tersebut.

Tipsnya adalah perhatikan dengan seksama di bagian Laporan Laba Rugi. Jika ada angka yang sangat kontras langsung membaca di Catatan Laporan Keuangannya sesuai no yang ada di sebelahnya.

Itulah pembahasan tentang EPS.

Sumber :

1. https://www.cimbniaga.co.id/

2. https://bukuwarung.com/

3. https://www.warsidi.com/

4. https://www.finansialpost.com/

(Visited 797 times, 1 visits today)

Artikel terkait...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *