Terendah Dalam 3 Tahun Terakhir, Saham ASII Bisa Jebol Rp 4000. Ini 4 Alasannya
Artikel ini merupakan INSIGHT Premium dari Stock Guide ID.
Jika berkenan boleh lo memberikan tip melalui link TIP Stock Guide ID
Nantikan INSIGHT Premium lainnya ya
=====
Tanggal 14 Mei 2024 merupakan exdate ASII dengan dividen sebesar Rp 421.
Saat pembukaan harga ASII langsung drop Rp 4670 dan harga penutupan ASII semakin turun menjadi Rp 4580.

Banyak yang sudah memprediksi bahwa ASII memang akan turun utamanya karena dividen trap. (Sebenarnya bisa kok kita ngetrap balik kalo sudah tau caranya Memahami Dividen, 4 Dividen Trap Yang WAJIB Diketahui dan Solusinya
Kabar buruknya adalah harga ASII saat ini atau Rp 4580 merupakan harga ASII terendah sejak 3 tahun terakhir atau setelah 02 Oktober 2020 dimana harga ASII saat itu Rp 4590.

Harga terendah berikutnya tentu saja di area dimana kita mengalami pandemi mencekam di kisaran harga Rp 4000an atau terendahnya Rp 3630.
Apakah mungkin harga ASII akan sampai ke Rp 3630? Menurut kami agak susah namun bisa saja terjadi ya.
Tapi apakah harga ASII akan turun menyentuh level Rp 4500 atau bahkan turun ke Rp 4400 atau paling buruk menyentuh level Rp 4000?
Bisa saja terjadi dan 4 hal ini bisa saja menjadi alasannya
1. Kinerja otomotif menurun
Dalam rilisan Stockbit disebutkan bahwa kinerja penjualan mobil menurun serta pangsa pasar ASII menurun.
Astra International ($ASII) mencatatkan penjualan wholesales mobil sebesar 26.531 unit pada April 2024, turun -34,2% MoM dan -23,4% YoY. Penurunan yang relatif tajam ini utamanya didorong oleh merek terbesar, yaitu Toyota (-29,3% MoM, -30,3% YoY). Sementara itu, merek mobil non-Astra pada April mencapai 22.106 unit (-35,5% MoM, -8,9% YoY). Terkoreksinya penjualan mobil non-Astra utamanya dipicu oleh penurunan Mitsubishi (-47,6% MoM, -52,7% YoY).
Dari sisi pangsa pasar (market share) pada bulan April, ASII mengalami penurunan menjadi 54,5% (vs. Apr23: 58,8%) dengan pangsa pasar Toyota menurun tajam ke level 31,2% (vs. Apr23: 37%). Sementara itu, Daihatsu mengalami peningkatan ke angka 19,5% (vs Apr23: 18,3%). Di sisi lain pada mobil non-Astra, Honda dan Suzuki mengalami peningkatan pada pangsa pasar yang masing-masing meningkat ke level 9,5% dan 10,3% (vs. Apr23: Honda: 8,4%; Suzuki: 7,9%).
Secara kumulatif selama 4M24, penjualan wholesales mobil di Indonesia hanya mencapai 263.706 unit (-22,6% YoY).
Jika mengacu ke laporan keuangan ASII Q1 2024, penjualan otomotif menjadi penyumbang penjualan ASII terbesar no 1 dengan penjualan Rp 34.1 triliun.
Namun dengan kabar buruk seperti di atas apakah ASII bisa mengerek kinerjanya seperti di Q2 2023 dimana penjualan otomotif ASII sebesar Rp 65.7 triliun dan di Q1 2024 ini penjualan otomotif ASII baru menyentuh Rp 34.1 triliun? Sepertinya agak susah tapi ya bisa saja.
Oh ya otomotif itu penyumbang penjualan terbesar namun bukan penyumbang laba bersih terbesar ya.
2. Kinerja komoditas menurun
Segmen Alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menjadi penyumbang penjualan ASII terbesar kedua dengan nilai Rp 32.4 triliun. Periode Q1 2024 ini pun turun jika dibanding Q1 2023 dimana saat itu alat berat menyumbang Rp 34.8 triliun.
Apakah di Q2 2024 penjualannya bisa comeback? Sepertinya susah.
Penjualan alat berat ASII di Q2 2023 sebesar Rp 68.6 triliun dan saat ini baru menyentuh Rp 32.4 triliun dengan kondisi dimana harga batubara sedang tidak secerah di tahun itu yang berada di kisaran 170an.
Segmen alat berat memang menyumbang penjualan no 2 untuk periode Q1 2024 (Periode Q2 2023 menjadi penyumbang penjualan terbesar), namun dari sisi laba bersih segmen ini menjadi penyumbang terbesar.
Jika penjualan turun, laba bersih turun maka dipastikan akan ada lagi yang turun. Apa itu? Poin no 3.
3. Dividen turun
Sebenarnya kita sudah melihat bahwa dividen ASII di tahun buku 2023 ini sudah turun dibandingkan dengan dividen ASII tahun buku 2022 dimana dividen total tahun buku 2022 sebesar Rp 640 dan di tahun buku 2023 ini hanya sebesar Rp 519.
Dengan penjualan otomotif yang lesu, segmen alat berat yang menurun apakah ASII masih sanggup untuk memberikan dividen dengan nominal yang sama? Anda kemungkinan sudah bisa menjawab
4. Rekomendasi analis yang menurun
Jika kita googling ada 2 analis yang menurunkan target price ASII yaitu JP Morgan yang menurunkan rekomendasi harga ASII menjadi Rp 4.400 dan UOB Kay Hian dengan harga yang sama.
Untuk info UOB Kay bisa dibaca di artikel ini.
Untuk JP Morgan ternyata link yang ada hanya miliki IPOT dan saat saya mengakses di tanggal 15 Mei 2024 jam 5.46 tidak bisa dibuka.
Berarti ASII tinggalkan saja dulu ya?
Ada 3 skenario yang bisa dibaca :
1. Jika belum punya masukkan watchlist saja sampai Q2 2024 rilis.
Menurut kami jika memang belum mempunyai ASII bisa dimasukkan watchlist saja karena bagaimanapun harga saat ini berada di harga book valuenya di kisaran Rp 5113.
Disisi lain harga ASII tahun 2020 dan harga ASII tahun 2024 ini walopun sama-sama Rp 4580 namun punya kualitas yang berbeda.
Jika mengacu ke penjualan ASII di tahun 2020 hanya Rp 175 triliun dengan laba bersih Rp 18.5 triliun. Bandingkan dengan ASII 2023 yang mencetak penjualan Rp 316 triliun dan laba bersih Rp 44 triliun.

2. Average down dengan teknik
Trus bagaimana kalo sudah punya dan floating loss? Kalo saat ini sudah floating loss diatas 10% bisa cicil beli namun juga kudu memperhatikan bobot ASII di porto dan kecukupan modal ya.
Teman-teman bisa menggunakan teknik floating loss di atas 15% baru beli.
3. Jangan diapa-apain
Atau misalnya sudah tidak mau menambah ASII juga tidak apa-apa tetap hold saja. Apa mungkin bisa balik ke harga Rp 5000? Sangat mungkin.
Apa mungkin bisa balik ke harga Rp 6000 ke atas? Ini agak susah…hehe..Tapi ya bisa aja…
Eh tulisan ini hanya menganalisa saja ya. Banyak kok labakecil, dividen tidak ada tapi harganya terbang ke angkasa.

