Belajar Memahami & Mempersiapkan Diri Menghadapi Market Risk & Company Risk Serta Solusinya
Stock Guide – Saat artikel ini ditulis tanggal 24 Februari 2022, ada kejadian yang menyedihkan yaitu konflik antara Ukraina vs Rusia.

Entahlah siapa yang salah siapa yang benar dan memang saya juga tidak ingin membahasnya.
Saya hanya akan membahas imbas perang yaitu terjadinya company risk dan market risk.
Di akhir artikel nanti ada bonus terkait gimana sih caranya biar bisa keluar dari ARB berjilid-jilid.
Ada banyak faktor yang membuat kinerja perusahaan dan kinerja saham berubah. Ada yang dari luar dan disebut sebagai market risk dan ada faktor yang terjadi karena dari dalam perusahaan yang disebut dengan company risk.
Kita akan membahas company risk dulu ya karena company risk bisa mengakibatkan market risk.
Company risk adalah krisis atau problem yang terjadi dalam diri emiten yang diakibatkan oleh kinerja perusahaan yang menurun. Company risk masih dibagi 2 :
a. Company Risk karena faktor eksternal
b. Company risk karena faktor internal
a. Company risk faktor eksternal
Company risk faktor eksternal adalah kondisi dimana perusahaan memiliki masalah dengan kinerja perusahaan yang diakibatkan oleh faktor dari luar seperti adanya perang, pandemi, krisis ekonomi, bencana alam, harga komoditas menurun dan lainnya sehingga kinerja bisnisnya menjadi terganggu untuk sementara waktu.
Ciri-ciri paling terlihat ketika perusahaan mengalami company risk faktor eksternal adalah saat adanya krisis kinerja perusahaan menurun, namun saat problemnya hilang kinerjanya akan kembali membaik.
Perhatikan gambar di bawah ini

Kinerja Bank BRI di Q2,Q3 dan Q4 Tahun 2020 menurun drastis dibanding tahun 2019 dan tahun 2021.
Hampir semua perusahaan di Indonesia kinerjanya menurun. Namun ketika pandemi sedikit berkurang kinerjanya kembali membaik yang dibuktikan dengan laporan keuangan di tahun berikutnya.
Hal sama juga ketika perusahaan komiditi seperti perusahaan batubara yang kinerjanya akan naik ketika harga acuan batubara naik dan kinerjanya akan turun yang ketika harga acuannya turun.
Dengan kondisi di atas apakah kita perlu menjualnya terlebih dahulu dan nanti masuk lagi?
Jawabannya tergantung conviction kita. Namun biar hati nyaman saran saya sih tetap dijual aja dulu. Dan proses menjual yang dilakukan rame-rame ini yang mengakibatkan market risk. Baca terus ya pembahasan tentang market risk.
Kalo keyakinan serta modal kita seperti Pak Lo sepertinya tetap dihold sambil avg down bisa saja menjadi pilihan.
2. Company risk faktor internal
Company risk faktor internal adalah kondisi dimana perusahaan memiliki masalah dengan kinerja perusahaan yang diakibatkan oleh faktor dari dalam seperti bobroknya manajemen, laporan keuangan yang dimanipulasi dll.
Contohnya yang mungkin bisa menjadi pelajaran adalah saham AISA.
Kalian bisa membaca ceritanya secara lengkap tentang perusahaan AISA ini di website Pak Teguh Hidayat disini
Dan efek dari kebobrokan manajemen membuat saham AISA di suspend selama 2 tahun
Nah kalo company risk yang diakibatkan oleh faktor internal seperti AISA ini memang sebaiknya kita segera menjual sahamnya. Dan opsi ini bisa saja membuat terjadinya market risk karena semua rame-rame jualan.
Sudah paham ya konsep company risk.
Sekarang masuk ke pembahasan market risk.
Market risk adalah risiko yang terjadi dalam bursa saham yaitu menurunnya harga saham yang dikarenakan faktor eksternal seperti adanya pandemi, perubahan kebijakan dari stakeholder, bencana alam, perang, penurunan kinerja perusahaan, habisnya suatu era seperti komoditi cycle, ARB karena pembagian dividen dan alasan lainnya..
Market risk ini sebenarnya terjadi karena kepanikan para investor atau trader terhadap krisis yang terjadi yang membuat mereka waswas dan harus segera menjual sahamnya (baik sudah cuan maupun masih floating loss) dan menggantinya ke aset yang lebih aman seperti emas.
Market risk ini tidak berhubungan langsung dengan perusahaan karena market risk ini hanya berhubungan dengan naik turunnya harga saham. Justru gara-gara company risk bisa membuat market risk.
Tahun 2020 saat mulai ada pandemi covid 19 terjadi market risk yaitu turunnya harga saham yang berturut-turut hingga BEI membuat kebijakan trading halt. Trading halt adalah penghentian perdagangan selama 30 menit karena IHSG turun dalam batas tertentu.
Contoh saham yang terkena market risk adalah saham BBRI.

Harga saham yang sebelumnya berada di kisaran 4353 (24 Januari 2020) menjadi hanya 2057 (15 Mei 2020) atau turun hingga 50%.
Dan waktu itu tidak hanya BBRI yang mengalami penurunan tetapi hampir semua saham di bursa kita mengalami hal yang sama..
Market risk ini terjadi karena adanya ketakutan kinerja perusahaan akan terganggu dengan adanya faktor eksternal yang sudah dimention di atas. Artinya potensi penurunan kinerja perusahaan menjadikan adanya market risk.
Sebaiknya apakah kita tetap hold atau ikut menjual?
Jawabannya tergantung market risknya karena apa dan seberapa nyaman kita dalam hold.
Kalo market risk hanya karena kondisi 1 kuartal saja, atau karena dividen yang dibagikan tidak sesuai harapan dsb ya hold saja gpp.
Tapi kalo market risk karena era cyclenya sudah habis ya mending dijual.
Tetapi sekali lagi hal ini juga tergantung dengan convicton dan rasa nyaman kita ya.
Sudah paham ya konsep company risk dan market risk
Pembahasan terakhir yaitu GTC order atau Good Till Cancel.
Apa itu GTC order?
GTC order adalah fasilitas order dimana settingan akan dikirimkan setiap hari sampai orderan tersebut berhasil DONE atau dibatalkan oleh nasabah sendiri. GTC hanya dapat di input pada jam perdagangan bursa.
Kenapa saya membahas GTC order ini?
Karena jika terjadi market risk maka semua investor akan berbondong-bondong untuk segera menjual sahamnya. Nah dengan menggunakan fitur GTC order kita tidak perlu menseting penjualan/ pembelian setiap hari tetapi cukup membuat order satu kali dan jika order tersebut belum DONE maka setiap hari akan otomatis membuatkan order.
Fitur GTC order bisa kita gunakan untuk menjual maupun membeli saham.

Sumber : https://miraeasset.co.id
Contoh kita ingin menjual saham AYAM di harga 1000 dan sekarang harganya Rp 1100. Dengan adanya fitur GTC order ini maka setiap hari ada order otomatis untuk menjual saham AYAM di harga 1000.
4 Waktu Yang TEPAT Untuk Menjual Saham Dan 2 Metode Menjual Yang PERLU Diperhatikan
Kabar baiknya adalah fitur GTC order juga bisa digunakan saat kita ingin membeli saham namun sahamnya sudah terlalu mahal atau istilahnya kita menawar.
Daripada kita nawar setiap hari mending kita gunakan fitur GTC order ini.
=======
Mau baca ANALISA terbaru saham? Klik DISINI
Mau baca INSIGHT yang lebih dalam? Klik DISINI
Mau baca MATERI tentang saham untuk investor pemula? Klik DISINI
Mau menggunakan Kalkulator khusus Saham? Klik DISINI
Sumber :

