Tidak Mau AVG Up Karena Takut Persentase Floating Profitnya Menurun. Kok Bisa?

Tidak Mau AVG Up Karena Takut Persentase Floating Profitnya Menurun. Kok Bisa?

Saat saya menjelajahi beberapa forum saham ada 1 hal yang cukup menarik yaitu keengganan beberapa investor untuk melakukan average up saham yang sudah dimiliki di porto.

Ada beberapa alasan yang sering saya lihat yaitu

1.  MOSnya turun

Ya MOS merupakan salah satu pengaman paling penting dalam membeli saham.

MOS atau margin of safety berfungsi sebagai pengaman agar kita memiliki ruang jika terjadi kesalahan.

Contohnya jika harga wajar saham AYAM Rp 1000 maka sebaiknya kita beli di maksimal harga Rp 500.

Bagaimana konsep MOS ini dengan average up?

Dengan melakukan average up tentu saja nilai MOSnya akan turun.

Contoh saham AYAM kita beli di harga Rp 500 dengan MOS 50% alias harga wajarnya Rp 1000.

Jika kita average up di harga di atas Rp 500 maka MOSnya sudah tidak 50% lagi tetapi dibawahnya.

Tetapi ada 1 hal yang perlu diperhatikan bahwa kita AKAN MELAKUKAN AVG UP saat MOSnya terpenuhi yaitu ketika lap kuartal-nya keluar.

Untuk membantu teman-teman akan saya sertakan kalkulator MOS ya. Klik Kalkulator Margin of Safety

2 Kekhawatiran floating profitnya menurun.

Nah alasan ini yang kadang masih sedikit lucu.

Saat kita sudah membeli saham dan masuk portofolio maka saham yang akan kita miliki punya 3 potensi yaitu tetap 0, floating loss (merah) dan floating profit (hijau).

Namun ketiga hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun terhadap uang kita sebelum saham tersebut dijual.

Nah datang momen dimana saham kita misal floating profit 100% atau bagger. Kita akan screenshoot dan pamer sana sini.

Saat ditanya kenapa tidak melakukan avg up? Jawabnya nanti floating profitnya turun.

Memang benar, saat kita sudah floating profit 100% terus kita melakukan avg up floating profit kita menurun tetapi ada yang mereka lupa bahwa CUAN RUPIAHNYA TETAP & LOTNYA SEMAKIN BANYAK

Contoh

Kita punya saham AYAM 10 lot dengan harga per lembar 1000 atau total Rp 1.000.000.

Saham AYAM yang kita beli naik 1 bagger menjadi potensi FP Rp 1.000.000 atau di porto menjadi Rp 2.000.000.

Kita melakukan avg up 10 lot lagi di harga Rp 2000 per lembar maka

Harga Awal = 1000

Jumlah lot awal = 10

Harga pembelian = Rp 1.000.000

Floating profit (%)= Rp 2.000.000 (100%)

Setelah average up

Harga per lembar average up = 1500

Total lot average up = 20 lot

Harga beli di porto = 3.000.000

Floating profit di porto (100%)= 4.000.000 (33.33%)

Sudah terlihat kan kalo melakukan average up itu hanya memotong floating profit tetapi sejatinya CUANNYA tetap DAN LOTNYA BERTAMBAH

Silahkan coba dengan angka yang teman-teman miliki di porto ya

Sekarang saya kasih tips kapan sebaiknya melakukan average up?

1. Jika harga wajarnya naik atau MOSnya naik

Harga wajar naik tentu saja jika kinerjanya naik sehingga teman-teman diperbolehkan mau avg up kalo lap kuartalnya sudah keluar

2. Jika lotnya masih sedikit, MOSnya masih aman dan yakin potensi kinerjanya akan naik

Contoh beli saham AYAM hanya buat testing sebesar 10 lot dengan MOS 50%.

Karena berbagai hal kita yakin kalo di Lap Keu berikutnya naik dan pengen bisa dapat harga masih di bawah maka bisa avg up.

Kalo sampe LK keluar hampir dipastikan harganya terbang dan justru MOSnya semakin sempit.

3. Pembelian pertama karena ragu-ragu atau memang dananya masih sedikit.

Alasan ketiga ini juga bisa diterapkan karena kan kadang kita nemu saham bagus tapi pas cashnya habis. Daripada ketinggalan momen kita nitip sandal dulu.

Gimana? Sudah siap avg up?

Kalo teman-teman ada alasan lain buat avg up bisa tulis di kolom komentar agar nanti bisa saya tambahkan ya.

(Visited 137 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Artikel Lainnya