Strategi Industri Farmasi Meghadapi Pelemahan Rupiah
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) menyatakan belum merasakan dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini ditegaskan oleh Direktur Eksekutif GPFI, Elfiano Rizaldi mengatakan, saat ini belum ada dampak terkait penguatan dolar AS lantaran situasinya baru terjadi.
Situasi pelemahan ini sudah pernah terjadi dan GPFI akan menyiasati hal ini. Pasalnya, bahan baku farmasi 90% masih diimpor dari luar negeri.
Elfino menambahkan harga bahan baku obat saat ini cenderung turun karena oversupply atau build up dari pasca Covid-19. Adapun, rata-rata harga bahan baku obat turun 10% sampai 20%. Untuk menyiasati pelemahan rupiah ini, GPFI mengantisipasi dengan melakukan hedging atau lindung nilai. Asal tahu saja, hedging adalah strategi manajemen risiko untuk melindungi atau membatasi aset dari risiko bisnis yang terlalu besar di kemudian hari. Strategi ini bertujuan agar neraca keuangan perusahaan tetap kuat.
Wakil Ketua Tetap Farmasi dan Alat Kesehatan Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Randy Teguh menambahkan, di tahun ini industri farmasi khususnya di sektor apotik mengalami minus growth dan di sektor rumah sakit masih positif growth.

