TPMA : Istimewa Tapi Kok Belum Naik, Peluang Atau Trap?

TPMA : Istimewa Tapi Kok Belum Naik, Peluang Atau Trap?

Dalam diskusi di Telegram ada 1 saham yang kinerjanya di RTI termasuk istimewa tetapi harganya relatif stagnan. Saham tersebut adalah TPMA.

Saya langsung mencari di RTI dan ternyata memang seharusnya istimewa. Teman-teman bisa melihat kinerjanya di bawah ini

Rasio-rasio yang ada memang istimewa

  • EPS terus meningkat sejak pandemi.
  • PBV 0.7, PER 3.8 dan GPM 36% serta NPM tembus 28%
  • Dan ujung dari kinerja yang istimewa tentu saja adalah dividen yang dibagikan. Tahun 2023 dividennya sebesar Rp 60 atau dengan harga Rp 444 maka div yieldnya menyentuh angka 13.5%. Lumayan besar walopun bukan perusahaan coal, bukan menjual aset dan bukan karena saldo laba ditahan.

Lantas apakah dengan kinerja seperti itu bisa bertahan?

Apalagi menurut Direktur Utama Trans Power Marine Ronny Kurniawan lebih dari 80% komoditas yang diangkut oleh kapal-kapal TPMA adalah batubara. Dan semua tau harga batubara sedang mengalami penurunan seperti dalam chart di bawah ini

EPS bagus, rasio bagus, undervalue tetapi kok harganya relatif stagnan ya seperti chart di bawah ini.

Apakah memang hidden gems atau malah value trap karena ketakutan harga batubara yang terus menurun?

Simak analisa di bawah ini

Analisa kinerja TPMA

Saya mencoba membandingkan kinerja TPMA di Q1 2023 dengan full year tahun 2017 hingga 2022. Kenapa perlu sampe tahun 2017 karena jika mulainya di tahun 2021 akan sangat bias dengan adanya pandemi covid 19.

Dan berikut data lengkapnya

Dalam Juta DollarQ1 2023Q1 2022Q4 2023Q4 2022Q4 2021Q4 2020Q4 2019Q4 2018Q4 2017
Kas22152215105443
Total Aset11110711110799103111111115
Jumlah Kapal747474747474747173
Biaya Sewa Kapal311701247146183,0923,2541,471816
Total Hutang171817182226323544
Ekuitas938893887777797570
Penjualan171268624239474337
PT Dian Ciptamas Agung3112847000
PT Borneo Indobara2188341886
PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (Persero)2181070000
PT Korintiga Hutani114877787
PT Jorong Barutama Greston1249661054
PT Energi Transporter Indonesia000000040
Laba Kotor63242197141310
Laba Sebelum Pajak52201542885
Laba Bersih41161432874
EPS0.00190.00070.00760.00540.00150.00080.00310.00290.0019
GPM35.2925.0035.2933.8721.4317.9529.7930.2327.03
NPM23.538.3323.5322.587.145.1317.0216.2810.81
  • Aset relatif tidak berkembang, termasuk jumlah kapal yang dimiliki tetapi biaya sewa kapal terus menurun setiap tahun. Tapi per tahun 2023 ini TPMA sudah menambah kapal seperti di artikel ini Target Naik 20%, TPMA Tambah Kapal
  • Total hutang terus menurun. Bisa dilihat total hutang tahun 2017 sebesar $44Juta dan di Q1 2023 hanya tersisa $17Juta
  • Untuk ekuitas mengalami kenaikan namun tidak terlalu signifikan dalam 5 tahun terakhir dimana tahun 2017 ekuitasnya $77Juta dan di Q1 2023 menjadi $93
  • Dari sisi penjualan ada kabar bahagia yaitu tahun 2017 penjualan hanya di $37Juta dan di tahun 2022 mencapai $62juta. Bahkan kenaikan tertinggi ini dicapai hanya dalam waktu 2 tahun dimana tahun 2021 $42 dan di tahun 2022 sudah $62Juta. Tapi mungkin agak bias karena pandemi semua berhenti dan di tahun 2021 dan 2022 seperti digelontorkan.
  • Sisi uniknya untuk TPMA saat pandemi di tahun 2020 hanya menurun menjadi $39Juta. Masih lebih baik dibanding tahun 2017
  • Bergeser ke bagian laba bersih. Laba bersih tahun 2017 berada di kisaran $4juta dan sempat naik di tahun 2019 menjadi $8Juta. Tetapi turun lagi di tahun 2020 dan di tahun 2021 karena tentu saja ada pandemi. Di tahun 2022 langsung recovery menjadi $15Juta. Target tahun 2023 naik menjadi $16Juta.
  • Kontrak dengan pelanggan berada di antara 2 sampe 4 tahun dan ada beberapa yang sudah bekerjasama sejak tahun 2010

2010 tanda tangan kerjasama dengan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (anak perusahaan PLN) sampe Feb 2024

2012 PT Korintiga Hutani selama 10 tahun dan diperbaharui hingga januari 2028

Berikut detail untuk kontrak TPMA dengan klien yang diambil dari annual report tahun 2022.

TPMA Batubara Dan Diversifikasi Bisnis

Apakah TPMA terpengaruh dengan naik turunnya harga batubara? Ternyata tidak. TPMA basisnya volume driven bukan price driven.

Melansir data Minerba One Data Indonesia (MODI), produksi batu bara nasional mencapai 684,87 juta ton pada 2022. Penjualan domestik terealisasi sebesar 225,09 juta ton dan ekspor terealisasi sebesar 307,13 juta ton.

Kementerian ESDM menyatakan bahwa kebutuhan batu bara PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan mencapai sekitar 161,15 juta ton pada 2023, meningkat dari 2022 yang mencapai 130 juta ton. Produksi batu bara pada 2023 juga ditargetkan dapat mencapai 694 juta ton.

Namun tentu saja TPMA terus melakukan berbagai diversifikasi bisnis.

Sejak 2012, Perusahaan terus mencoba mengeksplorasi jenis barang dan komoditas baru dalam cakupan layanan pengangkutan yang disediakan. Kini, selain batu bara, Perusahaan juga melayani pengangkutan komoditas seperti pasir besi, clinker, biji besi olahan (sponge rotary kiln), woodchip, gypsum, dan wood pellets.

Perusahaan masih terus memperluas jenis barang/komoditas yang dapat diangkut untuk meningkatkan  keberagaman layanan yang dapat ditawarkan kepada pelanggan.

Pengangkutan komoditas biji nikel melalui anak perusahaan PT Trans Logistik Perkasa (TLP) yang telah beroperasi sejak 2022. Di tahun 2023, Perseroan berencana untuk menambah investasi di TLP berupa penambahan armada hingga 20 kapal.

Adanya kebijakan hilirisasi sumber daya alam juga menjadi poin plus bagi emiten karena hilirisasi SDA ini menjadi peluang adanya peningkatan muatan karena adanya angkutan raw materials ke smelter.

Target TPMA 2023 dan potensi dividennya

Dalam annual report tahun 2022, TPMA sudah menuliskan target untuk tahun 2023 dengan jelas dan gamblang bahkan termasuk potensi dividennya (Setau saya baru TPMA yang sampe sedetail ini menuliskan targetnya)

Untuk penjualan targetnya menjadi $66juta, untuk laba bersih $16juta dan potensi dividen yang akan dibagikan sebesar $4.5juta.

Sekadar informasi untuk tahun 2022 penjualan TPMA $62 Juta, dengan laba bersih $14 Juta dan dividen yang dibagikan dengan DPR 76.4% sebesar US$10,69 juta atau setara dengan Rp157,99 miliar per lembar Rp 60.

Memang sih kalo di annual report potensi dividennya hanya $4.5juta. Kita berharap dengan DPR yang sama dengan tahun 2022 maka dividennya $12.2juta dan per lembar mendapat Rp 69 (1 dollar = 14900).

Tapi kalo hanya $4.5juta ya hanya Rp 25. Hehehe.

Kinerja istimewa, target realistis tercapai dan harga masih stagnan. Kira-kira peluang atau trap?

Itulah analisa tentang saham TPMA. Sepertinya menarik sih…

(Visited 445 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Artikel Lainnya