MLIA : Kinerja Laba Rugi Yang Perlu Diketahui Serta Fakta Dibalik Dividen

MLIA : Kinerja Laba Rugi Yang Perlu Diketahui Serta Fakta Dibalik Dividen
Sumber : https://photo.kontan.co.id/photo/2021/11/02/628452433p.jpg

Semua krisis bisa menghantam semua perusahaan termasuk MLIA atau PT Mulia Industrindo Tbk.

Tidak hanya krisis pandemi covid 19 yang menurunkan EPSnya menjadi hanya tinggal 50%, krisis tahun 1998 ternyata masih menjadi “luka” bagi emiten yang IPO 17 Jan 1994.

Kabar gembiranya, luka tersebut sebentar lagi tertutup.

A. PROFIL

Mulia Industrindo Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan atas hasil produksi entitas anak. Produk yang dihasilkan anak usaha dibagi kedalam 4 divisi, yang meliputi

1. kaca lembaran,

Divisi kaca lembaran memproduksi kaca lembaran polos dan berwarna (dark grey, dark blue, bronze, euro grey, light green, dan grey) serta low-e glass dengan ketebalan 2-15 milimeter. Kaca lembaran dijual kepada distributor dan perusahaan pemroses kaca (processor) di dalam dan luar negeri, termasuk beberapa negara di benua Asia, Australia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

2. botol kemasan,

Divisi botol kemasan (glass container) memproduksi gelas / cangkir dan kemasan kaca transparan dan berwarna (coklat dan hijau) yang digunakan sebagai kemasan makanan (selai / jam), minuman (teh, air, kecap, sirop, minuman energi, minuman bersoda, dan lainnya), serta obat.

Pelanggan utama kemasan kaca di dalam negeri adalah PT Heinz ABC Indonesia, PT Sinar Sosro, PT Indofood, PT Lassalefood Indonesia (produsen sirup Marjan), dan PT Tirta Investama (Danone Aqua). Divisi ini juga menjual produk ke luar negeri termasuk ke Australia (Amcor Glass dan Capi), Filipina (RC Cola, Coca Cola Bottlers, Marigold), Thailand (Bangkok Glass Industry, Thainamthip / Coca Cola Bottler), Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Selandia Baru.

3. glass blocks,

Divisi glass block memproduksi glass block yang merupakan produk material bangunan yang dapat diaplikasikan pada dinding dan lantai. Pasar glass block yang diutamakan adalah pasar dalam negeri, di mana penjualan glass block di pasar domestik mencapai sekitar 70% dari total penjualan. Dalam rangka perkembangan teknologi, glass container & glass block division menjalin kerja sama dengan Nihon Yamamura Glass (NYG).

4. kaca pengaman otomotif.

B. BERITA

MLIA tercatat meraup laba bersih sebesar Rp 254,90 miliar hingga akhir Maret lalu. Angka ini melesat signifikan 104,38% jika dibandingkan dengan laba bersih periode berjalan per Maret 2021 yang senilai Rp 124,71 miliar.

Pencapaian bottom line MLIA didorong oleh pertumbuhan dari sisi top line. Perusahaan mencatat peningkatan penjualan bersih sebesar 23,46% menjadi Rp 1,33 triliun pada kuartal pertama tahun ini. Di mana, pada kuartal pertama 2021, angkanya hanya sebesar Rp 1,07 triliun.

https://investasi.kontan.co.id/news/laba-bersih-mulia-industrindo-mlia-tumbuh-104-di-kuartal-i-2022

=====

PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) memproyeksikan angka penjualan dan laba bersih di tahun 2022 dapat mencapai masing-masing sebesar Rp 4,8 triliun dan Rp 690 miliar.  Sepanjang 2021, Mulia Industrindo tercatat membukukan penjualan sebesar Rp 4,45 triliun, dengan capaian laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 647,24 miliar.

Berdasarkan hitungan kasar Kontan, pada tahun ini MLIA membidik angka pertumbuhan kinerja masing-masing mencapai 8% (penjualan) dan 6,6% (laba bersih) secara tahunan atau year on year (yoy).

Meskipun memiliki proyeksi bisnis yang positif di tahun ini, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Mulia Industrindo Henry Bun menyebut bahwa kinerja perusahaan di tahun 2022 masih dibayangi oleh sejumlah tantangan yaitu dengan adanya perang antara Rusia dan Ukraina yang belum mereda.

Dia bilang, kondisi itu dapat berdampak terhadap kenaikan harga bahan baku impor serta adanya potensi tingkat inflasi yang semakin naik.

Untuk memaksimalkan kinerja di sepanjang tahun, MLIA disebut Henry telah menyiapkan sejumlah strategi bisnis untuk meningkatkan penjualan, baik di pasar domestik maupun ekspor.  Beberapa strategi yang dijalankan perusahaan antara lain, melakukan penjualan produk-produk yang berkualitas dan design yang baik serta melakukan penambahan jaringan distribusi, baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor.

Di tahun ini, Mulia Industrindo menyiapkan dana belanja modal atau capital expenditure (Capex) sebesar Rp 300 miliar. Rencananya, dana capex tersebut akan digunakan untuk memenuhi sejumlah kebutuhan di sisi operasional perusahaan, antaranya overhaul mesin-mesin produksi botol dan glassblock yang umur ekonomisnya sudah cukup lama dan kurang efisien serta mesin-mesin dan peralatan pabrik lainnya.

“Realisasi penggunaan capex pada kuartal pertama tahun ini belum terlalu besar. Penggunaannya baru meningkat banyak pada kuartal kedua hingga kuartal keempat nanti,” pungkasnya.

https://newssetup.kontan.co.id/news/ini-strategi-mulia-industrindo-mlia-bidik-penjualan-rp-48-triliun-di-2022

=====

Dalam unggahan tersebut terlihat bagaimana Lo Kheng Hong bertanya. Di mana, dia menanyakan kenapa saat batu bara sedang murah dahulu, MLIA tidak memanfaatkan sumber energi yang satu ini dalam proses produksi keramiknya.

“Bukan sekarang ya Pak. Sekarang harga batu bara mahal. Dulu-dulu kan harga batu bara murah, kenapa Mulia pakai gas bukan batu bara atau PLN, Pak Henry?” ujar Lo Kheng Hong.

Kemudian, pertanyaan Lo Kheng Hong itu ditanggapi oleh Direktur MLIA Henry Bun. Menurut dia, batu bara itu pencemaran lingkungannya sangat tinggi.

“Batu bara itu pencemaran lingkungannya sangat tinggi. Jadi selain bisa batu bara, bisa menggunakan minyak. Minyak itu adalah minyak bakar kita sebut dengan heavy fuel oil dan ketiga gas,” jelas Henry Bun.

Selain itu, lengkap dia, jika perseroan memilih menggunakan batu bara, maka untuk konversi apabila terjadi kendala akan mengalami kesulitan.

“Pada waktu kita desain pabrik ini kita pastikan itu menggunakan batu bara atau menggunakan energi gas dan minyak. Kalau energi gas dan minyak ini bisa di-switching. Jadi misalnya kalau terjadi masalah dengan gas, kita bisa pindahkan ke minyak tapi kalau kita mau pindahkan ke batu bara tidak gampang karena itu  butuh teknologi yang berbeda,” papar dia.

https://investor.id/market-and-corporate/286528/saat-lo-kheng-hong-bertanya-soal-batu-bara-pada-mulia-industrindo-mlia

C. ANALISA

Ada 4 hal yang menjadi sorotan dalam pembahasan kali ini yaitu

  1. kinerja perusahaan yang perlu diketahui
  2. saldo laba yang minus
  3. harapan dividen yang akan dibagikan
  4. kenapa tidak masuk sebagai hidden gems

1. Kinerja perusahaan yang perlu diketahui 

Jika kita hanya mengandalkan EPS yang ada di aplikasi RTI maka kita hanya tau jika MLIA benar-benar perusahaan yang sangat istimewa karena kenaikan EPS-nya cukup mengerikan.

Tahun 2019 eps MLIA hanya 96 kemudian tahun pandemi turun 50% di kisaran Rp 42. Tetapi di tahun 2021 menjadi Rp 489 dan periode q1 2022 EPS annualizednya Rp 771 atau Rp 193.

Sangat drastis dan sangat mengerikan.

Namun sebelum kita menganggap MLIA istimewa kita perlu mengetahui konsep EPS adalah bottom line dari laporan laba rugi.

Dalam laporan laba rugi tercantum pendapatan, beban pokok, beban-beban hingga keuntungan dan kerugian lain-lain.

Yang sebenarnya perlu kita soroti pertama adalah terkait revenue, laba kotor kemudian laba bersihnya.

Revenue merupakan inti dari sebuah bisnis. Jika revenue naik artinya bisnisnya diminati oleh pelanggan.

Bagaimana dengan EPS? EPS itu bisa didapat dari laba tetapi juga ditambah atau dikurangi dengan hal-hal di luar bisnis perusahaan seperti keuntungan selisih kurs, keuntungan bunga dll.

Sekarang kita simak progress revenue MLIA

Catatan ya kenapa saya menyertakan tahun 2009 dan 2010 kemudian baru lanjut di tahun 2015 karena di tahun 2009 dan 2010 informasinya akan digunakan di poin no 2 di bawah ini.

Sekarang kita fokus dari tahun 2015 hingga annualized 2022.

Revenue tertinggi pernah dicapai oleh MLIA di tahun 2017 dengan total 6.2 Triliun.

Kemudian turun hingga tahun pandemi dengan revenue di kisaran Rp 3.7 Triliun.

Ada 2 hal yang menarik yang perlu diketahui yaitu :

1. Revenue MLIA mengalami tren menurun dari tahun 2017 ke 2019.

2. Justru tahun 2020 malah tetap bertahan dan sebagai awal mula bangkit sampai di tahun 2022 ini.

Untuk tahun 2022 MLIA mempunyai target revenue Rp 5 Triliun.

Berbeda dengan revenue, laba bersih tahun 2017 justru termasuk sedikit karena hanya menghasilkan Rp 47 miliar. Apakah di tahun 2018 bangkit? Ternyata manajemen berhasil melakukan efisiensi di beban-beban dan mendapat keuntungan dari selisih kurs.

Baru di tahun 2020 hingga Q1 2022 laju pertumbuhan kinerja MLIA sangat signifikan.

Ada 3 hal yang menarik terkait tahun 2022 yaitu

  1. Target revenue Rp 5 Triliun
  2. Target laba bersih Rp 700 miliar
  3. Kemungkinan akan ada selisih keuntungan kurs karena saat artikel ini ditulis kurs Rupiah dengan Dollar di kisaran Rp 15.000

2. Saldo laba yang minus

Ada sesuatu yang unik dari MLIA ini.

Informasi pertama yang saya dapat dari PUBEX adalah berikut ini

Saat ada pertanyaan tentang kapan MLIA akan membagikan dividen. Dan jawaban dari manajemen adalah MLIA akan membagikan dividen saat saldo labanya sudah positif. Posisi saat ini saldo laba MLIA masih minus Rp 558 miliar.

Awalnya saya tidak terlalu “ngeh” tetapi saat membaca lap keu Q1 2022 baru mulai merasa “wow” ada sesuatu yang unik.

Saya langsung mengecek di bagian ekuitas dan benar saja saldo labanya masih negatif.

Q1 2022

Ternyata selama ini MLIA masih ada kewajiban mengembalikan saldo laba yang ditahan akibat krisis 1997.

Langsung saya membuka Lap Q4 tahun 2010 (tadinya mau lebih lama tetapi di web max hanya tahun 2010) dan hasilnya adalah MLIA di tahun 2009 defisit Rp 4.3 Triliun.

Q4 2010

Angka yang menurut saya lumayan jika dibandingkan dengan laba kotor tahun tersebut di kisaran Rp 515 Miliar.

Namun seperti di poin no 1 bahwa MLIA terus menggenjot revenue dan di periode Q1 2022 ini defisitnya hanya tinggal Rp 302 miliar. Dengan target laba bersih Rp 700 miliar maka akan ada sisa kisaran Rp 300-400 miliar.

Perhatikan bagian Saldo Laba.

Trennya menurun dengan signifikan dan target laba bersih tahun 2022 sebesar Rp 700 miliar yang artinya kemungkinan MLIA akan mulai membagi dividen sesuai di poin no 3 berikut.

3. Harapan dividen yang akan dibagikan

Dividen merupakan salah satu pengungkit terbaik bagi emiten agar kinerja saham emiten bisa naik.

Hal ini tentu saja bisa sedikit dibuktikan dengan ambyarnya saham SMDR yang dikarenakan dividennya “kecil” dan naiknya saham PTBA karena dividen payout rationya mencapai 100%.

Bagaimana dengan MLIA?

Ya MLIA belum pernah membagikan dividen sejak IPO di tahun 1994.

Penyebabnya tentu saja kita sudah tahu karena sudah dibahas di poin no 2 yaitu karena saldo laba ditahan yang masih minus.

Namun angin segara sebentar lagi akan datang karena manajemen dalam PUBEXnya menjanjikan akan membagi dividen ketika saldo laba ditahannya minus. Dan melihat kinerja MLIA saat ini, manajemen sudah siap membagikan dividen di tahun 2023.

4. Kenapa tidak masuk sebagai hidden gems

Stock Guide ID memang tidak memasukkan MLIA sebagai hidden gems karena untuk saat ini sudah telat.

Sejak tahun 2020, MLIA sudah terbang hingga 700an% sehingga sudah bukan lagi mutiara yang terpendam.

Namun tentu saja akan ada yang bertanya, bagaimana kalo mau masuk saat ini?

Menurut saya masih sangat bisa apalagi dengan rencana stock split tanggal 15 Juli 2022 ini.

Harga MLIA akan dipotong 5 menjadi kisaran Rp 566 (menggunakan harga tanggal 13 Juli 2022).

Artinya harga semakin murah secara nominal dan seharusnya investor ritel juga bisa masuk.

Saat ini saham yang beredar di masyarakat hanya 433 Juta.

Dengan stock split maka lembar saham yang beredar di masyarakat akan menjadi kisaran 2.166.571.390.

Saat ini transaksi di MLIA juga relatif sedikit

Dengan kinerja? Saya pikir kinerja MLIA tahun 2022 akan sesuai dengan targetnya dan tentu saja target tahun 2022 ini lebih tinggi dibanding realisasi tahun 2021.

D. KESIMPULAN

Harga : 2830 (harga tanggal 13/07/2022)

EPS : 771 (annualized)

Book Value : 2770 (annualized)

Harga Wajar : 6932 (Graham Number)

MOS : 59

PEG Ratio : –

PER : 3.67

PBV : 1.02

GPM : 51.89%

NPM : 19.14%

ROE : 27.80%

Kseimpulannya adalah

  1. MLIA termasuk perusahaan yang memiliki potensi kinerja istimewa dengan menawarkan MOS 59% artinya potensi kenaikan ke harga wajarnya masih di atas 100% alias bagger.
  2. Ada kerugian masa lalu yang pelan tapi pasti sudah diatasi dan jika kerugian ini selesai maka MLIA akan membagikan dividen
  3. Kinerja + dividen siap menjadi katalis positif bagi MLIA
  4. MLIA bisa ditempatkan sebagai value stock maupun growth stock.

Sumber :

1. http://lembarsaham.com/

(Visited 208 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Artikel Lainnya