Kamu Dividen Investing Atau Dividen Hunter? Atau Malah Dividen Waiting Investor

Kamu Dividen Investing Atau Dividen Hunter? Atau Malah Dividen Waiting Investor

Artikel ini ditulis pada Bulan Februari 2022, dan biasanya bulan Februari banyak perusahaan yang mulai membagikan dividen.

Bagi para investo,  momen pembagian dividen ini ibarat mendapat air minum di tengah perjalanan panjang yang membuat semangat berinvestasi terus bertambah.

Orang-orang yang berinvestasi saham dengan fokus pada dividen disebut dividen investor.

Apakah hanya ada dividen investor saja? Ternyata tidak.

Ternyata ada orang-orang yang ingin menikmati capital gain di momen pembagian dividen. Orang-orang ini disebut dengan dividen hunter.

Hanya 2 saja? Ternyata tidak dan konsep dividen ini jarang yang membahas yaitu dividen waiting investor (Entahlah yang bagus disebutnya apa tetapi konsepnya adalah menunggu perusahaan tersebut membagikan div yield tinggi).

Sebelum masuk lebih jauh terkait dividen investor, dividen hunter atau dividen waiting investor, ada baiknya kita mengenal komponen dividen yaitu

1. Dividen yield

Dividen yield adalah adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur keuntungan yang dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang saham.

Rumus menghitungnya = dividen per saham dibagi harga saham saat ini dikali 100%

Sebagai contoh, perusahaan AYAM membagikan dividen dengan nilai Rp100/lembar.

Harga saham perusahaan AYAM pada tanggal penutupan adalah Rp1.000.

Perhitungan dividen yield-nya adalah 100/1.000×100%=10%.

Maka, dividen yield perusahaan AYAM adalah 10%.

2. Dividen payout ratio

Dividend payout ratio (DPR) adalah perhitungan rasio yang didasarkan pada seberapa banyak laba perusahaan yang dibagi menjadi dividen bagi para pemegang saham.

Sebagai contoh, perusahaan AYAM mendapatkan laba bersih sebesar Rp1 miliar. Kemudian, perusahaan menetapkan akan membagikan dividen sebesar 50% dari total laba bersih.

Berarti, total dividen yang akan dibagikan oleh perusahaan AYAM berdasarkan DPR adalah Rp500 juta.

DPR ini bisa dilihat di aplikasi RTI di bagian Key Statictic

Angka persentase 28,85%, 33,02% dan 33,58% merupakan DPR dari emiten EKAD.

3. EPS atau earning per share atau laba bersih per saham

Menurut Baridwan (1992), EPS atau earning per share atau laba bersih per saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar, dan biasanya dipakai oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan.

Angka 104, 106, 134 dan 154 merupakan EPS

4. Saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya.

Sebenarnya jarang perusahaan menggunakan saldo laba ditahan ini untuk dibagikan dividen.

Namun kemaren ada 1 perusahaan yaitu HEXA membagikan dividen jumbo dengan menggunakan saldo laba ditahannya.

Saldo laba ditahan (retained earnings) adalah jenis laba hasil penjualan barang dan jasa yang kemudian dibagikan sehingga juga menjadi tambahan bagi para pemegang saham. Laba ditahan adalah jumlah nominal uang yang dapat dipakai untuk membagikan dividen.

5. Cumdate dan Exdate

Cumdate adalah tanggal terakhir bagi investor yang ingin membeli saham tertentu dan berhak untuk mendapatkan dividen perusahaan yang telah diumumkan.

Jadi jika kalian membeli saham misal BBNI pada tanggal 22 Februari 2022 jam 15.59 maka kalian masih mendapat dividen. Trus kalo saya belinya sebelum tanggal 22 Februari 2022 gimana? Ya tetap dapat.

Jadi intinya kalian harus pegang saham Bank BNI hingga tanggal 22 Februari 2022 jam 16.00.

Exdate adalah hari pertama dimana pemegang saham tidak berhak lagi mendapatkan dividen dari suatu perusahaan.

Jika merujuk contoh di atas maka exdate dividen saham Bank BNI tanggal 23 Februari 2022.

Kembali ke pembahasan tentang dividen investor, dividen hunter dan dividen waiting investor.

Oh ya di akhir artikel saya menuliskan juga cara memprediksi dividen yang akan dibagikan.

A. Dividen Investor

Dividen investor adalah orang-orang yang mengambil jalan bahwa dividen adalah hal utama untuk memutuskan memilih suatu saham dan berinvestasi saham.

Mereka akan mencari perusahaan yang rutin membagikan dividen dengan yield minimal di atas 4%.

Apakah mereka hanya menginginkan dividen saja? Bagaimana dengan capital gainnya yang justru sering lebih banyak dibanding dividennya?

Mereka memang bertumpu dari dividen sebagai prioritas pertama sedangkan capital gain hanyalah bonus. Mereka menganggap dividen adalah bukti paling sahih bahwa perusahaan memang mencetak laba.

Ada banyak perusahaan yang terlihat mencetak laba namun ternyata laba tersebut hanyalah laba di atas kertas saja bukan laba sebenarnya.

Selain itu, dengan membagikan dividen artinya perusahaan juga memperhatikan nasib para investor ritel bukan hanya psp atau pengendali saja.

Ada perusahaan yang mencetak laba tetapi tidak pernah membagikan dividen. Lantas kemana uangnya? Uangnya digunakan dulu untuk membayar para manajemen yang diisi oleh orang-orang pengendali perusahaan. Jadi tanpa dividen dibagikan mereka sudah menikmati laba dari perusahaan.

Kenapa dividen yield minimal di atas 4%?

Sebagian besar menggunakan data deposito sebagai acuan yaitu paling tidak emiten membagikan dividen dengan div yield di atas 5% karena return deposito 4% per tahun. Namun ada juga yang keukeuh untuk mencari perusahaan yang bisa memberikan dividen di atas 7%.

Sebenarnya jika hanya mencari target 5% saja kita bisa membeli ORI atau obligasi. Lantas kenapa kita harus memilih saham? Karena saham ada potensi capital gainnya.

Selain div yield 5% sebenarnya ada ilmu lagi yaitu menunggu perusahaan tersebut memberikan div yield yang besar. Maksudnya seperti apa? Lanjut di poin B.

B. Dividen Waiting Investor

Sebenarnya konsep dividen waiting investor ini bukan menitikberatkan langsung ke dividennya tetapi ke perusahaan yang sedang growth dan memiliki kinerja istimewa

Konsep dari dividen waiting investor ini adalah

a. Memilih perusahaan istimewa yang sedang tumbuh dan membagikan dividen

b. Dividen Payout Ratio (DPR) stabil atau kalo bisa naik

c. Kita siap menunggu dalam waktu yang lama

Jadi kita memilih perusahaan berkinerja istimewa yang sedang berkembang dengan pesat yang dibuktikan dengan epsnya yang terus meningkat dan membagikan dividen.

Contoh gampangnya seperti ini (Saya ambil SIDO karena memang paling pas untuk menjelaskan bab ini)

EPS SIDO terus meningkat dari tahun 2018 hingga tahun 2021 dan jika melihat apa yang dikatakan oleh manajemen maka di tahun mendatang masih meningkat.

Untuk DPR juga stabil bahkan meningkat dari tahun 2018 yang sebesar 81% menuju 100% (Tahun 2021 masih dividen interim sehingga DPRnya masih kecil)

Sekarang kita lihat dividen yang dibagikan oleh SIDO sejak pertama mereka IPO

Sebenarnya terlihat standar saja. Tetapi bagaimana kalo sekarang kita melihat harga pertama IPO hingga sekarang

Sekarang hitung berapa div yieldnya jika kita membeli saham SIDO di harga 345 untuk tahun 2021.

Tahun 2021 SIDO sudah membagikan dividen cash sebesar 18.9 + 15.3 = 34.2 dan harga saat itu sebesar 345 artinya div yieldnya sudah 10%. Itu jika kita hanya menghitung tahun 2021.

Sekarang saya akan menghitung total dividen yang sudah diberikan SIDO sejak pertama IPO (dividen sahamnya tidak saya hitung ya) yang totalnya Rp 262.7 atau div yield sebesar 76%. Mungkin tahun 2025 orang-orang yang membeli SIDO sudha balik modal dari dividen saja ya.

Siapa yang sudah sukses menggunakan strategi ini? Ya jelas Opa Warren Buffet dengan saham Coca Colanya.

Warren Buffet sudah membeli Coca Cola sejak tahun 1988 dengan biaya USD1,299 miliar, dan Coca Cola tahun 2021 ini akan membagikan dividen senilai USD672 juta atau div yield 52% bagi Warren Buffet.

Sebenarnya konsep dividen waiting investor ini lebih cocok disebut investor hold forever atau quality investing.

C. Dividen Hunter

Investor jenis ketiga ini akan aktif memantau jadwal pembagian dividen dan memantau kapan cumdate.

Dividen hunter adalah orang-orang yang membeli saham suatu emiten yang berpotensi mendapat div yield besar dan nantinya ketika 2 atau 3 hari sebelum cumdate mereka akan menjual saham tersebut.

Dari awal mereka memang tidak berniat mengincar dividennya tetapi mengincar capital gain dari hiruk pikuk kenaikan saham menjelang cumdate.

Jadi para dividen hunter ini akan melihat

– Jadwal pembagian dividen rata-rata emiten (Biasanya emiten mempunyai bulan-bulan tertentu untuk membagikan dividen)

– Rata-rata div yield yang akan dibagikan (Seperti POWR, ITMG atau HEXA hampir selalu di atas 7% kecuali pas ada pandemi ya)

Nah mereka akan membeli saham-saham ini 2 atau 3 bulan sebelumnya sehingga mendapat harga bawah.

Saat diumumkan dividennya mereka sudah memiliki sahamnya dan siap menjual di saat 2 atau 3 hari sebelum cumdate.

Saya pernah berhasil melakukan di saham MFMI (tetapi awalnya memang berniat investasi tetapi tiba-tiba MFMI membagi div yieldnya sangat tinggi dan saya tergoda untuk Taking profit dibanding mengejar dividennya)

Namun saya juga pernah gagal di saham TOTL. Secara umum div yield TOTL di atas 7% tetapi tahun 2020 diumumkan kalo div yield TOTL hanya kisaran 3% dan akhirnya ARB berjilid-jilid.

Sudah paham kan?

Memang dividen ini termasuk menggiurkan tetapi kalian juga wajib tau tentang dividen trap.

Apa itu dividen trap? Memahami Dividen, 4 Dividen Trap Yang WAJIB Diketahui dan Solusinya

D. Cara Memprediksi Dividen Yang Akan Dibagikan

Teman-teman bisa memprediksi besaran dividen yang akan dibagikan oleh suatu emiten dengan melihat EPS dan Dividen Payout Ratio rutinnya.

Rumusnya adalah

Perkiraan Dividen = EPS x DPR

Yang DPR pastikan persentasenya stabil ya..Kalo tidak stabil tidak bisa

Contoh di bawah ini ada saham EKAD

Contoh Tahun 2020 ya dan anggap aja kita tidak tau kalo dividennya Rp 45.

EPS : 134

DPR : 33%

Perkiraan dividen = EPS/DPR

PD : (134×33)/100

PD : 44,22

Dividen aslinya Rp 45. Relatif dekat kan.

Teman-teman bisa menggunakan kalkulator di bawah ini untuk memprediksi dividen yang akan dibagikan

Sumber :

1. https://itstime.id/

(Visited 736 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Artikel Lainnya